Tadi aku ke makam bapak. Dadakan aja sih, karena ada teman ortu yang tanya letak makam bapak. Ya udah sekalian ikut, aku ibu dan adek.
Lalu aku teringat bahwa tiga hari lagi lamaran.
Lalu aku teringat kegagalan lamaranku dahulu kala.
Waktu masih ada bapak.
Aku ga pernah mempertanyakan masa singkatku mengenal bapak (25 tahun terkesan lama, tapi sebenarnya terlalu sebentar untuk dihabiskan dengan orang yang dicintai). Aku cuma sedih karena 25 tahun itu tidak kumanfaatkan sebaik-baiknya. Aku mungkin menjadi penyebab dari banyak rasa sakit, sedih dan kekecewaan Bapak. Termasuk saat aku menggagalkan rencana pernikahan itu.
Ingin menyesal, tapi ga boleh kan?
Ingin berandai-andai, tapi juga dilarang kan?
Bapak meninggal saat aku berusia 25 tahun; itu sudah tertulis ribuan tahun lalu di lauhul mahfudz. Di tempat yang sama, tertulis takdirku untuk menikah di usia 28 tahun. Memang sudah qadarullah bahwa aku menikah tanpa kehadiran bapak.
Belajar dari kesalahan.
Ya beginilah, I learned it the hard way.