Lebih dari tiga tahun berlalu sejak kedatanganku di kota Kusatsu, dan sekarang aku (dan suami) memutuskan untuk pindah rumah. Kali ini, kami adalah “warga lokal” yang berada di dalam Jepang. Jadi harusnya perpindahan ini lebih mudah, kan?
Yap, memang lebih mudah. Tapi tetap saja prosesnya berliku karena kami mengerjakan semua sendiri.
Kota utama pilihan kami adalah Kyoto, hanya sekitar 18 menit naik kereta lokal JR dari Kusatsu. Dari situ, aku menghubungi beberapa agen yang ada di sana:
Aku buka website mereka, pilih-pilih apato lalu kontak. Di website mereka sudah tersedia form untuk komunikasi, jadi sampai di sini prosesnya cukup sederhana. Website ini berbahasa Jepang ya, tapi bisa pakai fitur translate untuk membaca. Setelah mengisi form (termasuk memberi alamat surel dan nomor ponsel), mereka akan menghubungi kita. Karena Kyoto adalah kota internasional, mereka punya karyawan yang bisa bahasa Inggris. Sayangnya, komunikasi tidak berjalan lancar. Agen berjanji akan menghubungiku, tapi tidak terjadi.
Sebetulnya, bisa banget kita langsung mengunjungi kantor ABLE dan mungkin komunikasi lebih efektif sampai dapat tempat tinggal. Berdasarkan pengalaman teman-teman internasional sih begitu. Tapi kami memilih untuk tidak melanjutkan proses dengan ABLE.
2. ELITZ
Aku menghubungi Elitz berdasarkan rekomendasi orang Jepang. Sama seperti ABLE, Elitz juga punya website (berbahasa Jepang) yang cukup komprehensif untuk urusan katalog, apato dan kontak. Bahkan ada kontak LINE juga (bisa didapat setelah mengisi form di website mereka). Jadi aku pilih-pilih, sampaikan ke Elitz lewat chat. Setelahnya, mereka kasih info ini: (A) Apakah orang asing (foreigners) boleh menyewa rumah tersebut. (B) Kalau boleh, rincian lengkap biaya sewa akan disertakan.
Informasi (A) itu penting sekali ya, dan kenyataannya adalah sekitar 50% dari rumah pilihan saya tertutup untuk foreigners. Ini bukan karena agen, tapi memang orang Jepang agak pemilih dalam hal ini.
Komunikasi dengan Elitz berjalan lancar hingga survei apato. Tapi kami tidak lanjut karena beberapa alasan pribadi.
Buat kami, House Network adalah juaranya. Agen ini tidak sebesar ABLE dan Elitz, bahkan mungkin cuma ada di Kyoto. Tapi mereka memang menyasar pasar foreigners, jadi sebagian besar staf juga berbahasa Inggris dengan baik. Mereka punya website berbahasa Inggris dengan katalog apato yang menerima foreigners. Walaupun jadinya pilihan terbatas dan lebih mahal, setidaknya mempermudah foreigners untuk memilih. House Network juga punya banyak pilihan apato untuk keluarga (2LDK ke atas), cocok untuk kami. Komunikasi kami lakukan melalui surel.
Selanjutnya, dokumen dan hal-hal yang wajib dimiliki oleh penyewa rumah adalah:
- Zairyuu (semacam KTP untuk warga asing) semua calon penghuni apato.
- Juminhyo (semacam KK)
- Nomor kontak darurat. Ini adalah nomor ponsel orang lain yang bisa dihubungi dalam kondisi darurat. Pemilik nomor harus berdomisili di Jepang dan bisa bahasa Jepang. Kontak darurat ini bisa teman, keluarga, atau bos dan dosen.
- Penjamin. Penjamin harusnya orang Jepang asli. Bisa dosen, bos atau lainnya. Namun, ketiga agen di atas sudah ada kerjasama dengan penjamin (guarantor), jadi mereka yang mengurus hal ini jika kita perlu. Kita harus membayar jasa penjamin ini secara berkala (biasanya tiap tahun).
- Surat keterangan bekerja/belajar (kuliah) beserta gaji.
- Paspor semua calon penghuni apato.
- Banyak uang.
Berapa lama proses dari menghubungi agen hingga dapat kunci apato? Dua setengah bulan untuk kami. Setelah melihat-lihat apato, kami memilih dan konfirmasi kembali ke pihak agen. Berhubung kami tidak memiliki penjamin, House Network yang mengurus. Nah, penyedia jasa penjamin pun harus melakukan skrining dulu sebelum melakukan penjaminan. Mereka bisa menolak dan membuat agen mencari penyedia jasa lainnya. Beres urusan penjamin, House Network menyiapkan kontrak. Saat semua siap, kami datang ke kantor untuk menyerahkan dokumen dan uang, sekaligus tanda tangan kontrak.
Begitulah gambaran pencarian tempat tinggal, jika sudah berada di Kansai. Proses pindahan tentu tidak berhenti di sini saja. Masih ada urusan putus kontrak dengan apato yang sedang ditempati, packing dan bersih-bersih, lapor ke berbagai institusi, dan sebagainya. Semua ini sangat menguras waktu, tenaga, biaya dan mental. Jadi sebisa mungkin pilihlah tempat tinggalmu dengan baik, biar tidak perlu sering pindah.
Semoga bermanfaat.