Puasa tahun ini masih aja sendiri di rantau. Tapi alhamdulillah tahun ini ada yang beda. Beda situasi dan tempat. Aku sekarang seorang karyawati penuh waktu yang tinggal di Penang. Lebih jauh dari rumah, lebih sepi dari KL.
Dari sebelum puasa memang sudah berniat bahwa Ramadan kali ini harus “terasa”. Alasan pertama karena aku mendapat pengalaman berpuasa di Penang. Kedua karena aku udah makin tua dan banyak dosa, jadi ingin istirahat sejenak dari kenikmatan dunia dan memohon ampun (klise banget emang, tapi ini beneran). Ketiga karena aku punya hajat yang ingin ditunaikan, yang sangat perlu pertolongan besar dari Allah. Jadi harus banyak berdoa.
Tantangan pertama tentu saja pekerjaan. Beban kerja tidak berkurang, justru bertambah. Memang ini resiko dari bekerja di perusahaan internasional yang tidak kenal agama. Kapanpun itu kalau ada kerja ya harus dikerjakan. Walaupun begitu, alhamdulillah ada sedikit keringanan untuk karyawan muslim. Jam kerja dipotong 30 menit, dari 9 jam menjadi 8.5 jam (jam istirahat yang dipotong menjadi 30 menit aja). Kami juga boleh mulai kerja jam 7.30 pagi agar bisa pulang jam 4 sore.
Banyak orang bilang Ramadan itu justru bulan produktif. Aku setuju, tapi produktif dalam ibadah. Bukan pekerjaan. Memang bekerja itu bisa bernilai ibadah. Tapi berapa banyak dari kita yang ingat untuk berniat kerja karena memenuhi perintah Allah untuk mencari nafkah (bukan murni karena cari uang/bonus/bayar hutang/dll)? Berapa banyak pula dari kita yang sanggup berhenti sejenak dari pekerjaan untuk solat di awal waktu? Lalu di atas semua itu, apakah kerja itu bisa menggantikan nilai solat dan istighfar?
Kalau saat bekerja kita jadi terlambat untuk solat (mepet batas akhir) atau malah tidak solat? Kalau saat bekerja kita tidak tambah iman, tidak tambah dzikir tapi malah fokus mikir kerja? Apakah masih bernilai ibadah?
I don’t know, I really don’t know. Jujur saja, saat bekerja aku masih selalu ingat uang, ingat dunia, menunda solat, dan tidak tambah dzikir. Bacaan Quran ku tidak bertambah, solat Sunnah juga jarang. Apakah pekerjaanku masih bernilai ibadah? Entahlah.
Karena itu aku tidak berani mengambil resiko untuk menganggap bahwa kerjaku adalah ibadah. Ya kalau betul jadi ibadah, kalau tidak?
Karena itu juga aku ingin meningkatkan ibadah yang lain, terutama Ramadan ini. Yang langsung ke Allah. Solat, baca Quran, sedekah, dll. Inginnya sih begitu.
Kerja penuh+puasa+tambah ibadah. Gimana tuh? Sampai hari ini aku masih berusaha menjalankan. Masih sangat jauh dari seimbang. Sekarang aku coba untuk disiplin masuk kantor paling lambat jam 8.30 pagi, agar bisa keluar sebelum jam 5 sore. Idealnya sih jam 8 sudah sampai kantor ya. Tapi aku masih sulit untuk bangun pagi. Waktu pagi yang bisa dimanfaatkan untuk baca quran, malah untuk tidur. Jadilah kucoba untuk maksimalkan sore dan malam sepulang kerja.
Yang parah itu, sore aku capek kan. Sering leyeh-leyeh aja di kasur. Tiba-tiba sudah waktu buka puasa. Lalu solat maghrib, isya dan tarawih. Selesai tarawih sudah pasti paling cepat jam 9.45 malam.
Masalahnya lagi, aku juga perlu waktu untuk menyiapkan makanan. Kadang memang aku beli di luar, tapi jujur aku sangat pemilih jadi kebanyakan makanan di pasar itu tidak cocok di lidah. Aku lebih suka masak sendiri walaupun masakanku kacau balau juga hahaha.
Jadi sekarang tantangannya: kerja penuh+puasa+tambah ibadah+capek+masak.
Jadi gimana dong? ENTAHLAH.
Mohon doa agar aku bisa menghilangkan rasa malas, tambah disiplin dgn kerja dan ibadah. Kalau tanpa malas, rasanya kesulitan terkurangi hingga 40% sih hahaha.
Penang, 12 Ramadan 1439