Melanjutkan cerita tentang research-based master degree.
Normalnya (dan seharusnya) kita sudah mempersiapkan proposal riset kita saat akan mendaftar program ini. Proposal ini menjadi salah satu bagian dari seleksi. Di Jepang, biasanya kita akan mencari dosen yang cocok untuk menjadi supervisor kita. Calon supervisor harus dikontak dan menyetujui proposal kita, baru setelah itu mendaftar di universitas tempat supervisor ini bernaung. Kalau supervisor sudah cocok, biasanya beliau yang akan memuluskan jalan pendaftaran dan bahkan beberapa supervisor akan mencarikan beasiswa untuk kita. Intinya semua bergantung sama supervisor.
Hal yang sama bisa ditemukan di kampusku, khususnya di Malaysia-Japan International Institute of Technology (MJIIT). Apalagi kalau kita bisa dapat supervisor yang banyak punya research grant,tidak perlu khawatir dengan perkara biaya kuliah karena beliau bisa jadi mau membiayai kita. Tapi ya kita harus bisa dapat kepercayaan dari beliau, kalau bisa jadi murid favorit. Ada beberapa teman yang jadi anak kesayangan supervisor, sampai-sampai supervisor membujuk dia biar lanjut PhD di lab yang sama (MJIIT) dan berkata, “Masalah biaya tidak masalah, bisa diatur!”. Enak kan?
Tapi tidak semua seperti itu. Ada juga yang mendaftar ke MJIIT tanpa ada calon supervisor. Salah seorang temanku mendaftar program PhD (sekaligus dengan beasiswa JAIF) tanpa berhubungan dengan supervisor manapun. Jadinya yang memeriksa proposalnya adalah Dean (dekan) MJIIT. Menurut ceritanya, proposalnya harus direvisi beberapa kali sesuai dengan saran Dean sebelum akhirnya dia diterima sebagai mahasiswa PhD dengan sponsor JAIF.
Apa yang dilakukan setelah resmi menjadi mahasiswa program riset? Hal yang paling awal dan penting untuk dilakukan adalah menemui supervisor. Di pertemuan inilah kita bisa tahu apa yang harus kita lakukan dalam menjalani program ini. Kalau supervisor ada waktu (dan peduli sama kita), beliau akan memperkenalkan kita dengan kampus, memberi tahu teknis administrasi, kalau perlu sekalian tur keliling kampus. Tapi tidak semua supervisor akan melakukannya. Apapun itu. Jangan menggantungkan semua hal pada supervisor.
Pertama kali aku berjumpa dengan supervisor, beliau tidak memberiku tur gratis keliling kampus. Hanya ditanya apa kabar, sudah tahu kan gimana-gimananya? Lalu kami pun berbicara soal riset; J tidak banyak yang kami bicarakan saat itu, supervisor hanya menyuruhku untuk membaca sebanyak-banyaknya jurnal pada topik yang beliau tentukan. Proposal yang kuajukan saat mendaftar sudah tidak berlaku lagi. Bukan apa-apa, proposalku waktu itu memang ‘hancur’ dan topiknya bukan termasuk dalam proyek riset beliau.
Sebenarnya program riset ini tidak memakai semester, karena memang tidak ada kelas dan ujian. Semester yang digunakan adalah kalender akademik kampus sebagai acuan jadwal defense, pengumpulan tesis, viva dan sejenisnya. Research student tidak mengenal kelas (perkecualian beberapa jurusan yang mewajibkan satu atau dua subject), assignment apalagi exam ,jadi jadwal libur pun tidak ada. Kalau kita perlu libur, minta ijin ke supervisor.
Lama sekali waktu yang kuhabiskan untuk menetapkan satu topik. Ini bukan hal yang ‘normal’ di kalangan master student ya. Rata-rata teman menghabiskan waktu 2-3 bulan untuk menentukan judul untuk kemudian persiapan proposal defense di semester 2. Satu semester di UTM adalah sekitar empat bulan, di awal semester dua, fakultas akan menetapkan deadline pengumpulan abstract. Kalau di UTM, abstract ditulis dalam satu form yang harus ditandatangani oleh supervisor. Dua-tiga minggu setelah pengumpulan abstract, akan ada deadline pengumpulan proposal.
Kalau abstract dan proposal sudah dikumpulkan, fakultas akan memasukkan kita ke dalam daftar mahasiswa yang akan melakukan proposal defense. Mereka akan menghubungi penguji dan menetapkan tempat dan tanggal defense. Jarak waktu antara pengumpulan proposal dan defense sekitar 2-3 bulan. Selama menunggu ya kita teruskan riset. Kalau aku dulu tetap meneruskan proposal, karena proposalku berantakan sekali dan aku belum siap dengan risetku. Tapi teman-teman lain ada yang dengan lancarnya meneruskan riset, melakukan eksperimen sehingga saat defense mereka bisa menunjukkan preliminary result. Yah orang beda-beda sih. [bersambung]