Walaupun kecil, konter ini terlihat cukup sibuk dan ramai. Ada beberapa petugas wanita di sana, semua berbahasa Inggris dengan lancar. Di depan konter ada banyak traveler dari berbagai negara. Ada yang sedang mendaftar, ada yang terlihat menunggu sesuatu. Sepertinya sebagian dari mereka sedang menunggu tur dimulai.
Sebagai WNI, aku tidak perlu mendaftar untuk ikut tur gratis yang disediakan oleh bandara Incheon. Saat aku mendatangi konter, petugas langsung meminta paspor dan boarding pass. Dia menuliskan data diriku ke dalam sheet yang tersedia, lalu mengambil sebuah brosur dan menunjukkannya padaku. Di dalam brosur itu ada keterangan lengkap mengenai paket tur yang mereka tawarkan. Sang petugas memilih tur 2 jam, karena aku harus segera kembali sebelum pukul 1 siang.
Tidak banyak pilihan untukku, karena aku hanya beberapa jam berada di kota ini. Jadi aku menurut saja dengan pilihan sang petugas. Setelah urusan registrasi selesai, dia mengembalikan dokumenku dan memberi satu pin bertuliskan ‘Korea Free Transit Tour’. Katanya, semua peserta harus memakai ini sebagai penanda anggota rombongan.
Rombongan berkumpul tepat pukul 8 pagi. Hanya beberapa orang di dalam grup ini, mungkin tidak sampai 10 orang. Beberapa di antaranya adalah pasangan. Ada juga yang solo traveler sepertiku.
Tour leader memimpin kami menuju minibus yang terparkir di depan pintu bandara. Begitu melangkahkan kaki di luar pintu, ya Allah. Seketika aku menggigil. Luar biasa dinginnya. Padahal diluar baju biasa, aku hanya mengenakan sweater dan coat. Dua lapis yang awalnya kurasa sudah sangat tebal, namun ternyata tidak cukup melawan dinginnya udara pagi itu. Aku langsung bersyukur karena memakai boots bekas yang kupersiapkan beberapa hari sebelum keberangkatan. Tentu saja masih tetap dingin, tapi mungkin akan lebih dingin kalau aku hanya memakai sneakers.

Tur singkat ini hanya berisi kunjungan ke dua tempat di kota Incheon. Selama perjalanan, aku sibuk menyiapkan action camera, cellphone, selfie stick, dan sarung tangan. Mencoba berbagai cara agar aku dapat mengoperasikan tiga alat tanpa harus melepas sarung tangan. Kusempatkan melihat pemandangan dari jendela minibus. Walaupun banyak bangunan tinggi berstruktur modern, kota ini terlihat sepi. Tak terlalu banyak mobil meluncur di jalan, begitu juga oranag yang berlalu lalang di tepiannya. Mungkin hari itu sedang libur. Atau mungkin udara yang dingin membuat banyak orang mengurungkan diri untuk beraktifitas diluar ruangan.
Kami pergi mengunjungi Heungryunsa Temple. Aku sudah lupa apa saja keistimewaan kuil ini. Entah karena ingatanku buruk, atau memang tidak mendengarkan saat tour guide menjelaskan. Kuil ini terletak di area pemukiman penduduk, agak sedikit naik ke atas bukit. Sepertinya kamilah satu-satunya pengunjung kuil pagi itu, mungkin karena itu hari Senin.
Minibus parkir di depan gerbang kuil, dan kami diberi waktu sekitar satu jam untuk melihat-lihat. Memasuki kuil, aku disambut oleh tangga yang agak tinggi. Bingung antara senang atau sedih. Sedih karena harus naik tangga, tapi harusnya senang karena tubuh akan terhangatkan oleh aktifitas ini.
Sebelum sampai ke atas kulihat toko di samping tangga. Ada juga beberapa mobil. Ternyata mobil masih bisa naik ke atas, kenapa minibus ga ikut parkir di atas sih?
Dari tangga bisa kulihat banyak lampion bergelantungan dengan rapi. Entah apa maknanya.
Intinya selama di kuil ini banyak hal yang tidak kupahami, dan aku juga tidak mencari tahu karena fokus teralihkan oleh udara bersuhu -5 derajat celcius. Yang penting aku bisa merekam dan foto tanpa harus kedinginan. Memang rasanya tangan membeku kalau tidak pakai sarung tangan. Kulit wajah juga menjadi sangat kering. Bibir kedinginan mungkin beku juga. Hidung sakit karena menghirup udara yang super dingin.
Ini hasil foto-fotoku.






[Bersambung]