Selama aku merantau dan berkelana ke banyak tempat, aku jarang sekali menemukan orang Semarang. Kalaupun ada, kebanyakan mereka dari kota-kota kecil di sekitar Semarang. Tapi mereka menyebut diri sebagai orang Semarang agar lebih mudah dikenali, karena kalau menyebut Grobogan atau Ambarawa kan mungkin banyak yang bingung ya.
Sepertinya, yang asli orang Semarang seperti aku ini memang tidak banyak yang merantau. Ditambah lagi, Semarang belum menjadi tujuan utama wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Jadi kalau menyebut Semarang, masih banyak yang belum bisa membayangkan seperti apa suasana kota. Malah mungkin banyak yang mengira kalau Semarang itu seperti kampung: sepi, tidak ada mall, pertokoan dan restoran tutup setelah maghrib.
Orang Jawa? Solo atau Jogja? Atau Jawa Timur? Surabaya? Sungguh jarang sekali kawan, yang menyebut kota Semarang saat kata ‘jawa’ terdengar. Padahal ibukota provinsi Jawa Tengah ya Semarang.
Selain menjadi ibukota provinsi, Semarang juga memilik banyak keistimewaan. Pertama, struktur dan lokasi geografis kota ini sangat indah. Semarang terbagi menjadi kota atas dan kota bawah. Bayangkan Bandung dan Lembang jadi satu kota. Tapi Semarang atas tidak dipakai atau didatangi hanya untuk liburan atau wisata ya. malah sebaliknya, berfungsi penuh seperti kota bawah. Perkantoran, bisnis, sekolah, dan pemukiman penduduk sama ramainya dengan Semarang bawah.
Kota atas berada di bukit, sedangkan kota bawah punya pantai. Mirip seperti Hong Kong dan Penang. Bedanya, kalau di dua tempat itu kita harus merogoh kocek untuk naik ke atas. Karena jadi tempat wisata. Tapi kalau di Semarang, ya tidak perlu membayar karena kota atas memang daerah pemukiman penduduk. Makanya waktu di Hong Kong dan Penang, aku tidak takjub dengan The Peak atau Penang Hill. Lah justru seperti itulah tempat tinggalku di Semarang!
Dari awal berdiri, kota Semarang memang bukan ibukota kerajaan. Jadi tidak punya keraton/istana seperti Solo, Jogja atau Demak. Dulunya, Semarang berdiri di bawah pemerintahan kesultanan Demak., kemudian beralih ke kerajaan Mataram. Kondisi ini justru menimbulkan lebih banyak lagi keistimewaan.
Pada saat Belanda menguasai Semarang, pertumbuhan kota ini sangat pesat. Semarang memiliki pantai, sehingga dibangunlah pelabuhan yang menjadi salah satu titik perdagangan penting di Jawa. Mereka juga membangun banjir kanal untuk mengalihkan banjir. Di Semarang juga ada trem (yang sekarang bias dijumpai di negara maju seperti Australia). Semua itu dibangun di kota bawah (sepertinya kota atas masih berupa hutan).
Agak naik ke atas (belum sampai ‘puncak’ yang sekarang disebut kota atas), dibangun lah rumah-rumah mewah sebagai tempat peristirahatan para penjajah. Sampai sekarang pun dalam perjalanan ke atas, di daerah Sultan Agung kita bisa melihat rumah besar dan mewah berjejeran.
Karena letaknya sangat strategis, banyak pedagang masuk ke pelabuhan Semarang yang berasal dari luar negeri, seperti Arab dan Cina. Para pedagang tersebut menetap di Semarang, jadi sampai sekarang di Semarang banyak orang keturunan Arab, Koja, India, Cina, bahkan Belanda. Hal ini sangat mempengaruhi budaya dan kuliner kota Semarang.
Dari apa yang kubaca, saat Belanda menjadikan Semarang sebagai titik pelabuhan penting, banyak pribumi (orang Jawa dan suku lain yang asli Indonesia, bukan arab atau cina) yang dijadikan kuli pelabuhan. Ditambah lagi dengan letak geografis yang memang pinggir laut, jadilah Bahasa orang Semarang ini cenderung kasar. Lain dengan Jogja dan Solo yang terjaga oleh keraton.
Kuliner Semarang itu TOP abis! Karena makanan khas asli Semarang saja sudah merupakan fusion dari masakan cina, arab, dan Jawa. Itu belum dikreasikan loh ya, masih yang asli. Sebut saja lunpia dan tahu pong. Dua makanan tersebut adalah perpaduan dari cemilan khas cina dengan Jawa. Lalu karena banyak ras, jadi kita bisa dengan mudah menjumpai masakan cina atau arab di warung pinggir jalan. Tidak harus ke restoran mahal. Tentu dengan rasa yang sudah disesuaikan dengan lidah Jawa. Namanya juga fusion kan.
Aku jadi ingat waktu jalan-jalan ke Jogja dan ngidam banget makan ifumie. Teman-teman kesulitan cari ifumie karena katanya hanya ada di restoran cina yang mahal! Eh tapi mungkin sekarang sudah berubah ya…
Inilah keistimewaan Semarang, kekayaan budaya, Bahasa, dan makanan yang kurasa lebih unggul dibanding kota lain yang sangat kental dengan kejawaannya.