Akhir Februari 2017, aku pulang ke Indonesia. Karena urusan kuliah sudah selesai untuk saat itu (masih ada beberapa proses, tapi belum untuk dikerjakan pada saat itu), dan aku juga sudah keluar dari asrama. Kurasa memang pulang adalah hal paling realistis yang bisa kulakukan, selain karena menghemat biaya juga aku ingin menemani ibuku yang masih menjalani masa ‘iddah.
Hari demi hari kulalui tanpa melewatkan berbagai situs lowongan kerja. Tak terhitung berapa banyak resume yang kukirim. Aku pun merasa mungkin data diriku sudah tersebar di semua situs pencari kerja yang ada di Malaysia. Awalnya idealis, cuma mau melamar kerja yang sesuai dengan bidang yang dipelajari. Lama-lama kompromi, pekerjaan apapun ya dicoba lamar selama masih halal dan aku (mungkin) bisa menjalani.
Aku juga bertanya pada teman-teman yang sudah duluan bekerja di Malaysia, siapa tahu ada lowongan di kantor mereka. kemudian ada seorang teman dekat yang menawarkan diri untuk me-refer aku ke kantornya. Tapi kantornya di Penang, 5 jam perjalanan darat dari KL. Gaji juga tidak besar. Tapi, ini perusahaan internasional yangmemiliki reputasi bagus. Setelah berpikir dan berdiskusi dengan ibu, aku mengiyakan tawaran temanku dan mencoba peruntunganku dengan melamar sebagai analyst di sana.
Sebulan lebih tinggal di rumah, aku mendapat panggilan dari kampus untuk menjalani sidang tesis (viva voce). Wow, aku tidak menyangka akan melakukannya secepat ini. Ya sudah, aku terbang ke KL dan menjalani sidang. Alhamdulillah lulus dengan koreksi. Penguji memberi masa 3 bulan untuk mengumpulkan koreksi tesisku. Jadilah kuperpanjang masa tinggalku di sana demi menyelesaikan tesis.
Selama masa revisi/koreksi di KL, fokus agak terpecah karena aku juga berusaha mencari kerja. Aku mendatangi career fair keduaku. Kali ini aku tidak mau “gagal” lagi. Beberapa hari sebelum pameran, aku sudah browsing segala tips untuk memaksimalkan career fair. Intinya career fair adalah saat dimana para HR dan recruiter turun gunung untuk bertemu calon karyawan. Jadi kita sebagai pencari kerja harus memberi impresi terbaik di mata mereka. Mulai dari berpakaian rapi, hingga menyiapkan pertanyaan jitu agar mereka tahu bahwa kita sangat ingin bekerja dengan mereka.
Aku juga merombak total resume ku. Tiga halaman itu terlalu panjang, dan aku banyak meletakkan informasi tidak penting di sana. Seperti menjadi panitia dalam acara PPI (acara kecil doang padahal). Format resume juga monoton dan membosankan. Foto udah tiga tahun tidak diganti. aku merubah resume menjadi satu halaman dengan berbagai macam versi. Jadi kusiapkan resume yang sedikit berbeda untuk jenis pekerjaan yang berbeda. Pulang dari career fair aku merasa puas karena sudah berusaha maksimal untuk bisa direkrut.
Setelah dua bulan berlalu. Ramadhan datang, revisi hampir selesai dan masih tidak ada panggilan apapun dari semua perusahaan tempatku melamar. Ketika revisi sudah 80% selesai, di awal Ramadhan aku pulang ke Indonesia. Kali ini bersama adikku yang juga telah menyelesaikan studi S1 nya.
Dari Februari sampai Juni. Rasanya bingung, galau, sedih, dan cemas. Mikir tesis (lulus dengan koreksi itu beban juga), mikir kerja, mikir keluarga yang baru beberapa bulan ditinggal bapak. Padahal baru beberapa bulan cari kerja ya, tapi rasanya lama sekali. Ku pikir, mungkin sebaiknya memang aku di rumah saja. Bantu bisnis keluarga (yang mulai dari nol semenjak bapak meninggal), atau buka bisnis baru bersama teman-teman.
kak bib keren euy
Saya ingin kerja di Penang juga sebenernya