Waktu mencari kerja, aku membutuhkan waktu yang alhamdulillah tidak lama, sekitar 5 bulan.
Bulan Januari 2017, setelah diskusi dengan orang tua dan sensei, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang S3. Aku mau kerja, dan ibu menyetujui. Kalau ibu sih kemungkinan besar memang tidak akan kasih ijin untuk lanjut S3 dulu karena aku belum nikah. Menurut beliau, lebih baik studi S3 dilakukan dalam kondisi sudah berkeluarga. Sama sih dengan alm bapak. Dulu malah awalnya Bapak tidak setuju kalau aku S2 sebelum nikah. Kata Bapak, akan lebih enak kalau ada yang menemani perjalanan hidupku yang tentunya akan jauh lebih berat dibanding saat kuliah S1. Apalagi kalau mau kuliah di tempat yang jauh. Yah qadarullah aku tetap lanjut S2 dan hingga sekarang belum sampai ke pernikahan.
Saat itu merupakan masa yang agak kritis buatku. Banyak mikir kesana kemari, sambil berusaha menyelesaikan thesis karena harus dikumpulkan awal Februari. Kalau terlambat, aku harus menambah satu semester tanpa ditanggung oleh JAIF (pemberi beasiswaku). Aku tidak punya uang banyak untuk membayar uang kuliah yang lumayan mahal, jadi tidak ada pilihan selain untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Saat itu benar-benar sibuk, jadi aku tetap fokus pada tesis dan belum mulai cari kerja. Kupikir, cari kerja (biarpun cuma di internet) akan menyita waktuku yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk istirahat atau revisi tesis.
Yang aku lakukan hanya satu, membuat keputusan mengenai dimana aku akan bekerja. Ini cukup krusial buatku, karena saat itu aku sudah tinggal bertahun-tahun di Kuala Lumpur. Walaupun begitu, aku kan tidak punya rumah/shelter di sana. Aku hanya menyewa kamar di asrama kampus, yang biayanya tidak murah. Beasiswa juga akan berhenti bulan ini. Februari sudah tidak ada lagi kiriman uang ke rekeningku. Dan aku belum bekerja, tidak ada pemasukan lain. Kalaupun ada ya tabungan. It’s like I am home but I’m not home. Atau gimana ya? Ya gitulah.
Begini akhirnya keputusanku: kalau aku bekerja kantoran, aku akan bekerja di Malaysia. Kalau tidak dapat kerja, aku akan pulang sepenuhnya ke Indonesia untuk membuka usaha sendiri. Aku tidak mau melamar pekerjaan di Indonesia.
Awal Februari 2017, alhamdulillah tesis berhasil submitted. Lega, tapi tidak menghilangkan rasa galau. Ya karena sekarang jadi pengangguran sepenuhnya. Di negara orang. Bergantung pada uang orangtua benar-benar bukan pilihan untukku. Kan bapak meninggal beberapa bulan sebelumnya. Kami sekeluarga masih berjuang untuk bangkit. Secara materis, seharusnya aku yang membantu ibu. Bukan ibu yang menyokongku.
After thesis submission. Pencarian kerja dimulai. Aku mulai menyiapkan resume, dan mulai membuka laman situs lowongan kerja. Paling sering buka Jobstreet.my karena aku hanya familiar dengan itu. Aku juga mendatangi sebuah career fair di KLCC. Bisa dibilang itu career fair pertamaku sebagai pencari kerja, dan gagal. Aku datang tanpa persiapan yang matang. Hanya membawa satu resume sepanjang 3 halaman yang kemudian aku berikan kepada HR di salah satu auditing firms terkenal di dunia. Setelahnya, aku hanya bisa melihat-lihat karena tidak ada resume lagi. Padahal tiap kali mendatangi booth perusahaan, pasti mereka minta resume. Jadi agak malu juga, mau cari kerja kok tidak bawa resume. What can I expect?
wow, pengen nyimak lanjutannya ah
Pejuang