Bibanabila kuliahnya ngapain sih?
Sering banget ada yang tanya ini sama aku. Wajar sih, mungkin karena program kuliahku belum populer di Indonesia ya. Jadi terlihat gimana gitu. Nah di tulisan ini aku akan cerita sedikit soal kuliahku, dan dunia perkuliahan di luar negeri pada umumnya.
Sistem Postgraduate (pasca sarjana) memang beda-beda tiap negara. Tapi biasanya negara maju (yang pendidikannya terlihat lebih maju) yang punya sistem kuat, dan kemudian ditiru(sekaligus di adaptasi) oleh negara berkembang. Bener ga sih?
Aku ambil Inggris sebagai penjelasan ya. Karena Inggris punya Commonwealth (persemakmuran) yang secara garis besar akan mengadaptasi sistem negara& pendidikannya. Jadi Malaysia sebagai anggota Commonwealth memang berkiblat banyak pada sistem pendidikan Inggris.
Di Inggris itu ada beberapa sistem pendidikan S2/Masters. Pertama, taught course. Sistem ini berpusat pada pendidikan kelas. Jadi cuma kelas aja, dan ga ada thesis. Kalaupun ada, hanya mini research yang tebalnya sekitar 50 halaman. Sisanya ya kelas-kelas aja. Program ini lebih pasti dan singkat dibanding program lain. Kalau di Inggris, taught course itu cuma setahun. Di Malaysia biasanya 3 semester atau 1.5 tahun.
Kedua, mixed mode. Mixed mode ini namanya beda-beda ya tiap universitas. Tapi intinya sama : gabungan antara kelas dan riset. Untuk beberapa orang, ini mungkin lebih berat ya daripada taught course. Karena harus nulis thesis. Thesis itu ya seperti skripsi, tapi dalam versi lebih mendalam dan tebal. Jadi bisa kebayang kan, harus bimbingan sama pembimbing, harus revisi sana sini dll. Di Malaysia, kebanyakan program Masters ya seperti ini.
Ketiga, research based. Ini juga namanya beda-beda per kampus, tapi intinya sama : 100% riset. alias 100% thesis. Nah ini program S2 yang kujalani sekarang. Kebayang ga, kuliah tanpa kelas sama sekali? Di beberapa kampus sih masih ada kelas wajib, tapi cuma 1-4 subject aja. 4 subjects pun udah kebanyakan. Kenapa? Karena mahasiswa harus fokus ke risetnya.
Kalau di program research, biasanya tidak ada sistem fakultas atau jurusan. Bukan tidak ada sih, tapi mungkin di blur kan atau gimana ya.Jadi yang ada “institute”. Dalam institute, akan ada banyak laboratorium. Para peneliti akan masuk ke dalam lab-lab yang ada. Jadi bukan jurusan apa, tapi lab apa. Bukan fakultas apa, tapi institute apa. Di dalam lab akan ada profesor, doktor, mahasiswa, asisten riset. Tiap profesor dan doktor akan menampung sejumlah mahasiswa yang akan melakukan penelitian sesuai dengan project mereka. Misalkan aku masuk ke dalam bimbingan supervisor X, dan supervisor ku ini memintaku untuk mengambil topik Corporate Governance yang akan mendukung penelitian kelompoknya. Ya ga selalu disuruh sama supervisor sih. Kita bisa juga pilih supervisor mana yang project nya cocok dengan research interest kita. Jadi memang benar-benar ga ada kelas, teman sekelas, exam, dll.
Kalau S2 research-based di kampusku, langkah awal mahasiswa harus mengambil kelas Research Methodology. Ya belajar basic research skill lah. Lalu kami harus membuat proposal yang kemudian akan diuji dalam proposal defense (sidang proposal). Kalau sudah lulus, artinya kita diijinkan untuk melakukan penelitian dengan topik yang diajukan dalam proposal. Lalu dimulai lah riset kita. Yah namanya riset ada jatuh bangunnya. Mulai dari proses pengumpulan data hingga penulisan. Rata-rata kami (penerima beasiswa JAIF) menyelesaikan riset selama 3 semester. Itu riset sekaligus penulisan aja ya, tidak termasuk proposal defense dan sidang lainnya.
Setelah thesis(research) selesai ditulis, submit ke kampus. Setelah 2-3 bulan akan ada VIVA (sidang thesis). Hasil viva ini ada beberapa jenis: lulus dengan minor corrections dan harus direvisi dalam waktu sebulan, lulus dengan major corrections dan harus direvisi dalam waktu 3 bulan, dan tidak lulus.
Selesai revisi, hasil revisi harus diberikan pada examiner (penguji) untuk diperiksa dan disetujui. Kalau penguji ga setuju, ya dikembalikan dan revisi ulang.
Setelah disetujui examiner, lulus dong? Well, masih ada proses yang dilalui. Ribet? Hahahaha emang. Kapan-kapan aku akan mengulas lagi soal perkuliahan di luar negeri. Sementara ini dulu, semoga bisa memberi gambaran.