Singkat cerita, akhirnya beberapa hari yang lalu pengadilan memutuskan bahwa Ahok bersalah Karena telah melakukan penistaan agama. Ditambah dengan hasil pilkada yang memenangkan Anies Baswedan (bukan Ahok) sebagai gubernur selanjutnya.
Sampai di sini bisa ditebak reaksi netizen pun sesuai dengan apa yang mereka gaungkan sejak 2016. Yang mendukung, bersyukur penuh kemenangan. Yang menolak, sedih. Nah kali ini saya menyoroti bagian sedih sedih ini.
Semenjak kekalah Ahok dalam pilkada dan diputuskan bersalah, berikut beberapa ekspresi kesedihan yang saya temukan di media social:
#RIPJustice
“Say goodbye to a better Jakarta”
“Boleh korupsi asal jangan salah ngomong”
“Pesimis sama Indonesia”
“Pingin pindah ke negara lain”
Really,guys? Is that all you can say?
Korupsi dan penistaan agama itu kan dua hal yang berbeda. Pasalnya saja berbeda, kog bisa dijadikan satu klausa. Kalau boleh korupsi, buat apa dong ada KPK?Gubernur di daerah lain sudah banyak yang terjerat kasus korupsi. Sampai dipenjara juga. Jadi pernyataan “boleh korupsi asal jangan salah ngomong” ini tidak valid.
Itu ustadz-ustadz sama yang ikut aksi Bela Islam diem aja liat kasus korupsi.
Yakin? Udah tanya satu per satu? Pendukung kasus penistaan agama, dan orang yang menyoblos selain Ahok juga rakyat Indonesia kali. Pasti tahu lah segala urusan mudah yang jadi sulit karena korupsi, pasti juga tahu dzolimnya hal ini. Bahkan MUI pun sampai mengeluarkan fatwa haramnya korupsi (yang tanpa fatwa pun sudah jelas haramnya mengambil hak milik orang lain).
Saya kurang tahu pasti apakah Ahok pernah melakukan korupsi. Katakanlah beliau memang bersih (seperti yang diyakini oleh sebagian orang), itu bukan berarti beliau bisa lepas dari kesalahan lain. Kesalahan Ahok mengenai penistaan agama ini sudah diverifikasi oleh MUI, Muhamadiyah, ahli bahasa, dan pengadilan tinggi loh.
Pesimis sama Indonesia. Pingin pindah ke negara lain.
Menyedihkan sekali karena saya lihat sendiri orang-orang yang menulis dua kalimat di atas adalah pemuda dibawah usia 50 tahun. SEDIH. MIRIS. Ahok itu satu orang. Jumlah rakyat Indonesia ada lebih dari 200 juta. Dari sekian banyak orang, diproyeksikan pada tahun 2020 nanti terdapat 64% dari populasi sedang dalam usia produktif. Serta terdapat sebanyak 61.8 juta pemuda usia 16-30 tahun. Di antara puluhan juta orang-orang tersebut, ada sekian jumlah yang tersebar di seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu dan berniat untuk pulang mengabdi kepada negara.
Kalau merasa pesimis hanya karena satu orang dipenjara, I can say that it’s an insult for other citizens who truly work hard for a better Indonesia.
Emangnya yang bekerja keras itu cuma Ahok?
Emangnya dari 2oo juta lebih orang Indonesia, cuma satu yang bener?
Give me a break.
“Kalian bukan hakim. Biarlah pengadilan/hukum yang membuktikan apakah Ahok bersalah”
Dan Ahok dinyatakan bersalah dan dikenai hukuman dua tahun penjara.
“RIP Justice. Pesimis sama Indonesia. Ternyata hakim yang kasih hukuman adalah penggemar Felix Siauw dan aa’ Gym.”
Sudah guys sudah. Saya yakin kita semua peduli dengan Indonesia. Masih banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan untuk Indonesia, if we really care. Kalau ada yang pesimis dan mau pindah kewarganegaraan, masih ada saya dan banyak warga Indonesia lain yang justru ingin pulang dan menetap. Ingin mengabdi. Ingin membenahi negeri ini.
Harapan itu masih ada.