Bulan Desember tahun ini menggenapkan keberadaan saya di Malaysia pada tahun ketujuh.
Teringat hari pertama saya menginjakkan kaki di Malaysia. Waktu itu saya ditemani seluruh anggota keluarga beserta kolega ayah saya terbang dari Semarang ke Singapura. Setelah beberapa saat berjalan-jalan disana, kami meneruskan perjalanan ke Malaysia dengan menggunakan mobil Toyota Hiace sewaan. Sesampainya di Kuala Lumpur, saya segera disibukkan oleh segala urusan registrasi dan persiapan masuk asrama. Saya tidak ingat apa impresi pertama saya mengenai kota yang terkenal dengan menara kembar ini. Yang saya ingat, seharian saya harus sibuk di kampus. Tidak sempat untuk berjalan-jalan dengan Bapak,ibu, dan adik-adik. Malam hari ,pukul 9.30 malam ibu datang dengan membawa beberapa barang untuk keperluan kamar. Besoknya saya tetap sibuk, dan keluarga harus segera kembali ke Singapura untuk mengejar pesawat ke Semarang. Saya melepas kepergian mereka dengan sedih. Masih jelas terekam dalam ingatan saya, mobil Avanza yang dipakai untuk perjalanan. Automatic car, dan itu pertama kalinya Bapak saya menyetir mobil non-manual. Sekarang pun saya masih sedih mengingatnya, terutama karena saat saya menulis ini, Bapak sudah tidak bersama kami lagi….
30 November 2009, siapa yang menyangka kalau saya akan bertahan di Malaysia selama ini? Saking lamanya merantau ke negeri seberang, kami sekeluarga sudah sangat terbiasa dengan saya yang tidak setiap hari berada dirumah. Bahkan ketika datang menjenguk saya beberapa bulan lalu, ibu terheran-heran karena saya hafal dengan seluk beluk kota. Sudah bisa menyetir sendiri tanpa bantuan GPS. Sudah selama itu saya disana, rasanya baru kemarin menangis tiap bangun pagi karena tidak ada siapa-siapa disini.
Bahkan sampai detik ini, Malaysia belum pernah masuk dalam mimpi saya. Tidak ada jawaban meyakinkan untuk kebanyakan orang yang bertanya kenapa saya berada disini (memang beneran banyak yang tanya haha). Mungkin pendidikan disini kurang bagus, mungkin negeri ini masih terlalu dekat dengan tanah air, mungkin mata uang kurang bernilai, dan mungkin mungkin lainnya. Tapi inilah takdirku, yang sampai sekarang masih terus saya syukuri. Sekurang apapun tempat ini, tetap saya merasa inilah yang terbaik untuk saya sejak tahun 2009. A place that I’ve learned to call home.
Mungkin ini adalah bulan Desember terakhir saya sebagai pemegang visa pelajar di Malaysia. Sedih, bingung, tapi bersemangat untuk merencanakan hal-hal baru. Hal-hal yang mungkin akan saya lakukan di luar Malaysia. Bisa jadi di Indonesia, atau negara lain. Yang jelas, sudah saatnya membuat perencanaan serius dalam rangka meninggalkan zona kenyamanan saya di sini. Semoga Allah mmberi takdir terbaik yang Dia berkahi. aamiin
“Tidak ada jawaban meyakinkan untuk kebanyakan orang yang bertanya kenapa saya berada disini”
aku juga sering ditanya bib.. dan jawaban yang spontan muncul di kepala aku pas ditanya “kenapa?” itu sejujurnya: “why not?”
😀