Bisa dibilang masa kecil saya 75% dihabiskan di full day school – sekolah sehari penuh. Waktu SD kelas satu, saya masuk sekolah pukul 06.50 – 11.00 (kira-kira). Naik kelas dua, saya bersekolah pukul 11.30- 14.00 (saat itu saya mulai belajar untuk pulang siang seperti anak-anak yang lebih tua). Kelas tiga sampai lulus SD, tiap hari saya bersekolah dari pukul 06.50 hingga pukul 16.00 (kira-kira). Sampai rumah ya sekitar pukul 16.30 sore. Begitu seterusnya di tingkat SMP hingga lulus SMA. Waktu SMA saya sempat merasa happy karena sekolah selesai “awal”, yaitu pukul 14.30-15.00. Tapi karena saya tinggal di asrama jadi ya sama aja dong ya.
Orang tua saya tidak pernah menyuruh-nyuuh atau memaksa untuk belajar. Sepulang sekolah yang penting ganti baju, makan, pas waktunya solat ya solat, pas waktunya tidur ya tidur. Tapi memang saya dan adik yang paling besar ini suka dengan yang namanya les. Dan entah kenapa ga tertarik dengan les musik, menari, atau bahasa asing. Pinginnya les pelajaran aja. Jadilah beberapa kali dalam seminggu, tiap malam ada sesi les privat. Ada satu guru (biasanya mahasiswa Undip) yang datang kerumah untuk mengajari saya dan adik.
Capek? Mungkin. Tapi sejujurnya saya tidak ingat pernah mengeluh capek dan pingin cari sekolah yang pulang awal. Pernah begitu waktu SMA, karena saya lihat sepertinya asyik sekali anak SMA lain masih bisa main sepulang sekolah (karena mereka pulang sekolah lebih awal). itupun hanya sekali saja, sisanya saya sangat menikmati masa SMA.

Waktu saya membaca berita mengenai pak Menteri yang melempar wacana untuk menerapkan sistem full day school ya perasaan saya biasa aja. Ga kaget, ga sedih, ga heran, ga protes, ga marah.
Gimana ya? Kenyataannya, memang ada orang tua yang terpaksa bekerja dari pagi hingga sore sehingga akan lebih baik kalau anak mereka berada di sekolah daripada dirumah sendirian atau sama pembantu. Jangan kecam orang tua seperti ini ya, saya yakin mereka sedang mengusahakan yang terbaik untuk anak mereka kog. Karena orang tua saya pun demikian.
Walaupun memang ada orang tua yang pada hari kerja bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk anak mereka, jadi tidak merasa perlu memasukkan anak ke full day school karena mereka memang ingin membersamai anak mereka.
Jangan saling menyerang lah. Apalagi menyerang pelaku dan pendukung konsep full day school. Sekedar informasi, orang tua saya itu dua-duanya luar biasa sibuknya. Bahasa kasarnya, saya ini typical urban kid yang orang tua sibuk dan dikirim ke full day school yang (menurut orang tua) paling bagus di daerah kami. Tapiiii walaupun sepenuhnya saya sadar kalau memang belum baik, orang yang kenal saya dan keluarga pasti setuju kalau my parents and my school raised me just right– orang tua dan sekolah saya mendidik saya dengan baik. Jadi kalau dibilang full day school itu buruk karena mengurangi interaksi anak dan orang tua, ga terlalu betul juga.
Full day school is not bad, but maybe it’s not a single model that fits to everyone.
Kebutuhan setiap keluarga itu pasti berbeda. Ga semua orang cocok dan perlu dengan model sekolah seperti ini, and it’s totally fine. Kenapa semua orang harus sama?
Kalau semua sekolah negeri harus menggunakan konsep full day?
Halo…seburuk apa sih efeknya sampai segitunya menolak? Anak sekolah itu energinya sangat banyak lho. Saya rasa kita tahu bahwa ga semua orang tua itu ideal, ga semua orang tua itu mampu dan aktif untuk menolong anak mereka untuk menyalurkan energi berlebih itu ke hal-hal positif. Bahasa gamblangnya, daripada anak-anak ke mall, pacaran, atau nongkrong ga jelas kan lebih baik di sekolah. Ya seharian di sekolah itu ga harus belajar lho. Bisa kan kita selipkan jam tidur siang (sekolah adik saya menerapkan sistem tidur siang), bermain, ekskul dan sebaiknya.
Lalu apakah saya akan memasukkan anak saya ke full day school? Errr…. Pertanyaan ini silakan diulang kalau saya sudah nikah ya!