Jadi kemarin saya berkenalan dengan seorang senior sesama mahasiswa Indonesia di Yamadai. Karena memang bertemu di jalan (saya tengah mengendarai sepeda), jadilah pembicaraan diawali dengan pertanyaan dari mana. Dari situ beliau bercerita kalau di musim libur seperti sekarang, beliau mengisi waktunya dengan baito (kerja paruh waktu) di Hotto Motto (salah satu restoran cepat saji disini).

Setelah mengobrol beberapa saat, karena penasaran akhirnya saya bertanya mengenai tempat penggorengan yang digunakan disana. Berhubung Hotto Motto adalah salah satu restoran yang jadi pilihan saya karena cepat, murah, dan lumayan enak. Jaga-jaga aja kalau misalkan ternyata non halal.
“Pak, kalau di Hotto Motto itu bagaimana masaknya ya? Dicampur apa enggak?”
“Oh..campur..sama aja kaya yang lain”
“Oh iya??”
“Iya..namanya juga negara non muslim. Mau ikan, ayam, semuanya juga dimasak bareng aja. Makanya ini saya masak sendiri, saya pisahin untuk jatah saya. Kan di shokudo (kantin) sini juga gitu, dicampur.”
“ooh gitu ya pak”
Perasaan saya waktu itu
……..
……..
……..
Antara shock dan udah nyangka juga sih. Cuma yah, makin berkurang dong tempat makan yang bisa dikunjungi. Termasuk di kantin kampus pun ga bisa beli apa-apa selain udon. Well saya bukan ulama, jadi ga bisa kasih ijtihad kehalalan Hotto Motto atau shokudo ini. Tapi ya mulai sekarang saya sendiri akan berhenti makan di kedua tempat itu (kecuali udon haha).
