Kalau mendengar kata Jepang, pasti kebanyakan orang langsung kebayang sama Shinkansen kan. Emang bener sih, shinkansen (kereta super cepat) jadi moda transportasi utama. Waktu mau ke Osaka, pinginnya juga naik shinkansen. Selain karena cepat, pengalamanku naik shinkansen paling lama cuma 1 jam. Kan mau tau juga rasanya naik shinkansen jarak jauh.
Sayangnya harga tiket diluar budgetku. Sempat juga ngecek harga tiket pesawat, tapi sama mahalnya (kadang naik pesawat lebih murah dari shinkansen, dan jelas lebih cepat). Sebenarnya ada sih uang, tapi aku lebih mengutamakan pengeluaran untuk jalan-jalan di Osaka.
Pilihan terakhir ya naik bus. Ga tanggung-tanggung, 12 jam perjalanan. Padahal jalurnya ga padat seperti pantura, aspal juga mulus. Jadi memang asli jauh, bukan jauh karena macet. Ga masalah sih karena di Indonesia udah biasa perjalanan darat, apalagi pas lebaran. 12 jam di mobil itu normal.
Harga tiket cuma 16.000 yen untuk perjalanan bolak balik dari Yamaguchi ke Osaka. Iya, aku yang tinggal di kota Ube harus naik kereta ke kota Yamaguchi dulu baru bisa naik bus ke Osaka. Perjalanan Ube-Yamaguchi ya sekitar satu jam naik kereta kuno yang kecepatannya mungkin ga jauh beda sama KRL di Jakarta atau LRT di Kuala Lumpur.
Beli tiketnya gampang banget. Mungkin lebih simple dari beli tiket pesawat di air asia atau traveloka. Bisa sih beli tiket online, tapi waktu itu aku beli di Lawson. Lawson itu sejenis dengan Seven Eleven, mereka semacam Indomaretnya Jepang. Jadi aku pergi ke Lawson ditemani dengan seorang kawan. Di Lawson ada mesin untuk beli macam-macam tiket. Ya mirip juga sih sama mesin pembayaran di Indomaret, tapi kalau di Lawson bisa langsung datang aja ga usah online dulu.
Tapi tulisan Jepang semua. Jadi temanku bantu baca dan memilihkan tiket. Lima menit kemudian, receipt keluar dan bayar deh di kasir.
Ya ampun, nulis intro aja sepanjang ini.
Setelah melalui drama salah halte yang disebabkan keteledoran diri sendiri, alih-alih dari Yamaguchi malah aku naik bus dari Tokuyama pukul 9.55 malam. Waktu bus datang, ada kondektur bus turun. Kondekturnya berseragam lengan panjang dan pakai topi. Warna gelap. Agak mirip masinis KAI. Pakai sarung tangan warna putih.
Aku langsung antri naik bus. Sampai giliranku, aku menyerahkan tiket pada kondektur. Dia menandai namaku dalam list, terus aku dapat luggage tag dan sebuah kartu untuk koperku. Luggage tag ini persis seperti tag di pesawat, tapi ini sudah ada nomernya. Tag harus dipasang di koper, dan aku harus simpan kartu yang diberi (bertuliskan nomer). Yang lebih oke, kondektur akan menyimpan koperku di bagasi. Ga seperti di Malaysia yang aku ga harus angkat-angkat sendiri.
Begitu naik bus…..
Seat terbagi jadi tiga lajur, tiap lajur hanya berisi satu seat. Yang paling seru, tiap seat di lajur kanan dan kiri (dekat jendela) memiliki tirai sendiri. Jadi mau tidur dengan gaya apapun, ga perlu malu karena orang ga akan liat. Selain itu, ga akan ada orang asing yang duduk di sebelah kita yang kadang membuat ga nyaman karena tingkah lakunya.
Suka banget deh sama interior bus seperti ini. I wish we have that in Indonesia. Atau jangan-jangan udah ada?

Plot twist: sayangnya aku dapat seat di lajur tengah. No privacy for me.
Di dalam bus ada toilet. Mereka juga menyediakan air kemasan yang tersimpan di dalam peti es. Kalau haus, bisa ambil aja. Di setiap seat sudah tersedia selimut dan bantal kecil. Begitu duduk, di depanku (punggung seat depan) sudah ada sandal, kantong plastik, dan pamflet. Tertulis juga beberapa petunjuk pemakaian fasilitas. Persis seperti naik pesawat. Ukuran seat normal walaupun tidak sebesar dan senyaman seat bus malam di Malaysia. Tapi standardnya sama, dan ada tempat kaki untuk selonjor. Sandaran lengannya dilengkapi dengan lubang colokan listrik, yang langsung kumanfaatkan untuk charging hp.



Satu hal yang membuat tirai antar lajur menjadi sangat krusial adalah, aku jadi bisa solat dengan bebas karena tidak ada yang liat. Waktu berangkat dari Ube masih sore, sampai di Yamaguchi udah maghrib dan dengan segala drama jadi aku belum sempat solat. Ini bisa jadi tips buat teman-teman yang sedang bepergian di Jepang dan kesulitan cari tempat solat. Solat bisa di bus sambil duduk.
Alhamdulillah perjalanan sangat nyaman, tidur jadi nyenyak. Jadwal sampai di Osaka pukul 7.25 pagi, jadi masih lama sekali. Sebelum tidur aku pasang alarm ponsel untuk bangun subuh. Pagi setelah solat subuh masih ngantuk banget, pasang alarm lagi untuk jam 7.
Di setiap pemberhentian, kondektur tidak akan berteriak-teriak mengumumkan nama halte (ga kaya di Indonesia yang kenek selalu teriak setiap saat). Bener-bener bus akan berhenti dengan tenang, dan kita harus punya kesadaran diri untuk turun. Karena kondektur juga ga akan bangunin kita.
Masalahnya aku emang kuat tidur. Jam 7 aku terbangun karena alarm ponsel, tapi karena ngantuk jadi aku tidur lagi. Akhirnya bablas. Bangun sudah jam 7.35, padahal harusnya aku turun jam 7.25 di OCAT. OCAT terlewati.
Masalah lagi kan?
Ga juga sih. Mata yang masih berat untuk melek ya aku paksa untuk cek rute bus. Ini udah sampai mana? Oke tenang bib. Bus Jepang selalu ontime, ini jam 7.38. Berarti 8 menit lagi bus akan berhenti di Osaka Station.

Nah bener kan, 8 menit kemudian bus berhenti. Beberapa orang turun, dan aku ikut-ikutan turun. Keluar dari bus. Ternyata itu bukan stasiun, tapi halte biasa di pinggir jalan. Halte yang ga ada atap. Cuma tiang aja yang menandakan kalau itu adalah halte.
Hoam. Ngantuk. Pegang koper, pakai tas ransel. Salah satu tangan ada di dalam kantong sambil mencengkeram ponsel. Celingukan. Sadar bib, ini udah di Osaka!