Malam itu, aku mendapat telepon dari RS. Ahda mengalami henti nafas hingga tiga kali, jadi mereka minta ijinku untuk memasang alat bantu nafas. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan permohonan mereka.
Kenapa anakku henti nafas, sampai tiga kali pula? Bukankah dia selama ini sehat?
Beberapa saat kemudian, ponselku berbunyi lagi. Ada telepon dari RS. Katanya, mereka sudah memasang alat bantu nafas tapi saturasi oksigen Ahda tak kunjung membaik. Mereka memutuskan untuk memindahkan Ahda ke NICU dan memasang ventilator. Gampangnya, Neonatal Intensive Care Unit (NICU) adalah ICU untuk bayi prematur. Kalau sebelumnya perawatan Ahda di Peristi adalah perawatan untuk bayi beresiko tinggi alias masih beresiko, sekarang Ahda masuk ke NICU yaitu perawatan untuk bayi yang sudah dalam kondisi kritis. Kepadaku, perawat menyampaikan biaya perawatan di NICU yakni sekitar delapan hingga sembilan juta per hari. Aku langsung memberi izin pada mereka. Apapun itu, kalau untuk kebaikan Ahda ya aku lakukan.
Setiap hari aku mengunjungi Ahda dan melihat kondisinya dengan tubuh yang ditempeli berbagai macam selang. Menyentuh pun tidak pernah sama sekali, karena aku tidak steril. Ahda juga tidak pernah keluar dari inkubatornya. Jadi aku selalu membacakan Qur’an untuknya sambil mengetuk kaca inkubator, berharap dia tahu kalau ibunya hadir. Beberapa hari sebelumnya, dengan wajah tersenyum perawat menyampaikan bahwa kondisi Ahda bagus dan kami hanya menanti berat badannya untuk naik jadi 1.800 gram. Katanya sehat, tapi kog henti nafas sampai harus pasang ventilator?
Bagaimana perasaanmu kalau berada di posisiku?
Qadarullah, begitu masuk NICU Ahda menangis. Dalam dunia bayi, menangis merupakan sebuah gesture yang sangat penting. Kalau dia menangis, artinya paru-parunya berfungsi. Saat Ahda dikeluarkan dari perutku, dia sempat menangis. Dokterku mengabari ibu lewat WhatsApp dan kabar ini diumumkan ke semua orang.
Melihat Ahda yang menangis, dokter NICU memutuskan untuk menunda pemasangan ventilator. Ahda akan di observasi di NICU hingga kondisinya membaik. Rasanya lega sekali.
Kami sekeluarga akhirnya menginap di RS. Di mana? Di ruangan penunggu pasien ICU. Jangan bayangkan kamar dengan kasur dan sofa seperti ruang rawat inap. Ruangan penunggu hanyalah sebuah ruangan Panjang yang terbagi-bagi dengan tripleks menjadi banyak bilik kecil. Bilik tersebut kosong, jadi kami harus membawa matras lipat, karpet, kabel rol, dan banyak barang lain agar nyaman berada di sana. Mungkin seperti tempat pengungsian ya. Alhamdulillah aku ditemani ibu dan adik-adik di sana, jadi aku tidak sendiri.
Keesokan harinya, dokter spesialis anak (DSA) yang menangani Ahda sejak lahir mengabarkan bahwa Ahda terkena sepsis.