Aku dan suami adalah perpaduan antara cuek dengan clueless. Apa arti yang tepat untuk clueless? Bukan bodoh ya (aku ga mau lah menikah dengan orang bodoh), tadi tidak tahu apa yang seharusya dikerjakan. Ya karena cuek juga mungkin?
Jadi setelah drama test pack berakhir, kami tidak segera memutuskan untuk menemui dokter kandungan. Kenapa? Tidak tahu. Nanti saja di akhir pekan. Selain karena waktu luang lebih banyak (suami libur), juga karena sudah gajian. Hahaha!
Lewat dua puluh empat jam kemudian, masih santai. Keluarga di Indonesia sudah bertanya-tanya dengan gelisah. Sudah ke dokter belum? Kapan mau ke dokter? Hingga aku mendapati adanya darah di celanaku. Cukup banyak.
Aku mulai khawatir. Kalau hamil, harusnya tidak ada menstruasi ‘kan? Maka kami putuskan untuk periksa ke dokter kandungan segera setelah suamiku pulang kantor, besok.
Dasar aku. Tidak mencari tahu di internet. Tidak bertanya-tanya pada teman. Merasa cukup bertindak dengan melakukan perintah orang tua, yaitu segera pergi ke klinik. Sambil menunggu suami selesai bekerja, aku bersih-bersih rumah seperti biasa. Lantai rumah dibersihkan pakai vacuum cleaner juga.
Eh, darah keluar lagi.
Jelas aku panik, dan langsung menghubungi suami. Alhamdulillah sebentar lagi dia pulang kerja, jadi aku langsung bersiap untuk pergi ke klinik ibu dan anak terdekat dari rumah.
Yang kulakukan saat pertama kali kontrol kehamilan:
- Tes urin. Karena baru pertama kali, dokter mengecek lagi just in case ternyata bukan hamil.
- Menghitung usia kehamilan dari tanggal menstruasi terakhir. Kira-kira baru 4-5 minggu usianya, Bu.
- Belum terlihat kantung bayi.
- Konsultasi tentang pendarahan.
OKE. Jadi intinya aku beneran hamil. Tapi pendarahan itu bukan sesuatu yang baik pada ibu hamil. Dokter bilang, ini karena rahimku masih lemah. Aku harus mengurangi aktifitas, sambal minum obat penguat rahim. Aku diminta untuk datang kembali minggu depan.