Saat pulang ke rumah, aku berusaha me-review ulang proses pencarian kerja ini. Kupikir, dulu setelah lulus S1, aku langsung lanjut ke jenjang S2. Selisih hanya beberapa bulan. Walaupun aku sempat melakukan magang di perusahaan tanteku, tapi itu bukan the actual working experience. Dengan kata lain, aku sudah hampir selesai S2 tapi aku tidak punya pengalaman kerja. Mungkin ini salah satu weakness utamaku. Kualifikasi pendidikan agak tinggi, tapi pengalaman industri hampir nol. Siapa yang mau hire? Tapi tidak apa-apa, tetap kucoba mencari kerja. Toh kalaupun tidak dapat, aku masih bisa buka bisnis di rumah. Malah sebenarnya memang cita-cita utamaku ya untuk memiliki perusahaan sendiri, bukan berkarir.
Beberapa hari berada di rumah, ada seorang teman menghubungiku. She referred me to her company a couple months ago. Sebelumnya dia sudah bilang kalau kantornya mungkin tidak akan menerimaku. Aku juga tidak menaruh harapan apa-apa ke perusahaan tersebut.
“Masih pingin kerja di kantorku ga?”, begitu kira-kira isi pesan dari temanku.
Aku kembali menata hati, tanya ibu. Oke, bismillah dicoba aja. Kalau dapat, ya mungkin itulah rejeki. Kalau tidak dapat, berarti rejeki ada di tempat lain. Besoknya langsung dihubungi oleh kantor, diminta untuk tes. Oke. Aku menjalani tes online dengan durasi satu jam.
Setelah itu lanjut berdoa, lanjut cari kerja lagi.
Habis lebaran, aku harus balik lagi ke KL untuk mengumpulkan koreksi tesis. Pas lagi di KL, dapat telepon dari kantor temanku itu. Memintaku untuk ikut tes lanjutan sekaligus wawancara. Wow, alhamdulillah. Wawancara dilakukan pagi hari via Skype.
Seminggu kemudian, aku dapat telepon lagi dari kantor tersebut. I got the offer! Alhamdulillah. Kusampaikan ini pada ibuku. Ibuku juga senang mendengarnya, I’m happy that she’s happy. Setelah melihat penawaran dan kontrak dari mereka, bismillah kuputuskan untuk melanjutkan hidupku di sini. Di perusahaan ini. Kuanggap ini sebuah langkah yang harus kuambil dalam prosesku meraih cita-cita utama di masa depan nanti.
Masa pencarian pun usai. Beberapa hal yang aku dapat dalam proses ini adalah:
- Rejeki itu sepenuhnya di tangan Allah. Waktu itu aku ke career fair dan benar-benar memaksimalkan semua sarana yang ada. Sampai aku juga menyiapkan daftar pertanyaan yang akan kutanya kepada HR di kantor yang kutuju, semua itu demi membangun kesan baik dan memudahkanku untuk dapat kerja. Dan aku juga ‘melepaskan’ harapanku untuk kerja di kantor temanku, malah sudah tidak ada keinginan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Tidak ada satupun perusahaan di career fair yang menghubungiku, dan justru tawaran datang dari kantor yang tidak aku harapkan.
- Karena Allah yang memberi rejeki, mintalah itu padaNya. Selama mencari aku terus berdoa agar Allah memberiku takdir yang terbaik, kerja di Malaysia atau berbisnis di rumah. Apapun itu asalkan terbaik untukku. Kalaupun aku kerja di Malaysia, aku mohon pada Allah untuk diberi kerja yang berkah dan memberiku ilmu yang bermanfaat. Doa itu selalu kupanjatkan hampir setiap hari. Akhirnya aku dapat kerja di sini. Insyaallah memberiku ilmu/skill yang bermanfaat. Lingkungan juga baik dan tidak menghalangiku beribadah.
- Mencari kerja itu tidak mudah, dan memakan waktu yang tidak sebentar. Aku baru tahu kalau ternyata orang lain malah ada (bahkan mungkin banyak) yang sudah mencari kerja selama setahun dan belum dapat juga. Walaupun ada yang sekali melamar langsung diterima, tapi yang jadi pengangguran berbulan-bulan juga banyak. Jadi aku harus bersyukur, dan sabar. Sabar untuk meraih sesuatu.
- Allah akan memberi di waktu yang tepat. Tidak kecepetan, tidak terlambat. On time. Dari Februari aku cari kerja, dan baru dapat panggilan tes bulan Juni. Juni itu aku sudah hampir menyelesaikan revisi. Kubayangkan kalau aku dapat kerja dan masuk pada bulan April, padahal aku masih harus viva dan revisi. Masa aku harus ijin cuti sama kantor, padahal baru aja diterima. Jadi pas sekali Allah membuatku menunggu dan memberi jawaban di saat tepat.
- Cari kerja dimulai seawal mungkin, tak perlu menunggu wisuda. Aku mulai cari kerja setelah submit tesis, tapi kuliah belum selesai. Jadinya selama proses penantian, aku tidak menghabiskan waktuku dengan kegelisahan dan galau karena belum dapat kerja. Ada pengalih perhatian, yaitu kuliah. Setelah kuliah selesai, pas langsung dapat kerja. Kalau mulai cari nanti setelah wisuda, aku mungkin akan galau setiap hari karena sedih belum dapat kerja. Dan tidak ada kegiatan apa-apa selain browsing lowongan kerja di internet.
Demikian pengalamanku saat mencari kerja. Kutulis di sini karena tahapan ini adalah satu tahapan penting dalam hidup yang tidak ingin kulupakan. Masa-masa peralihan, masa sulit, masa tertekan ini harus kutulis sebagai pengingatku di masa depan. Bahwa aku harus sabar, aku harus lebih persistent dalam berusaha. Aku harus percaya sama Allah. Semoga ini juga bisa jadi penyemangat untuk teman-teman yang melalui proses serupa.
keep strong kak, insya Allah semua ada waktu terbaiknya ^_^