Lanjut pembahasan semalam nih.
Cara ketiga untuk mengetahui status halal makanan, dan juga cara termudah, yaitu dengan melihat label halalnya. Lho, katanya ga ada sertifikat halal? Emang ga ada, tapi ini barang produksi luar Jepang alias impor dari Asean. Belinya di Supermarket Gyoumu. Gyoumu ini punya cabang di banyak kota, termasuk Ube. Aku suka banget sama Gyoumu karena mereka jual banyak produk impor dari Asean, terutama Thailand dan Malaysia. Bahkan di Gyoumu kota Ube, ada poster besar yang isinya produk apa saja (berserta foto) yang berlabel halal. Cuma dua aja sih kekurangannya. Satu, letaknya jauh dari apato. Mau naik sepeda ke sana, capek. Jadi harus nebeng teman yang mau kesana naik mobil. Dua, tidak jual indomie. Yang ada mi instan Thailand, rasa tom yam. Huh.
Ada sih toko lain yang jual indomie. Memang toko barang import gitu. Kesana 1.5 jam perjalanan naik kereta. Harganya ¥450 alias Rp 50.000. Waktu itu saking lagi kedinginan dan kangen micin akhirnya beli 2 biji.
Selama di Jepang 3 bulan, tidak pernah dengar suara adzan secara langsung. Paling ya rekaman ponsel aja. Mungkin di musola kampus kadang ada yang adzan ya, tapi kan aku tidak tiap hari ke sana. Sekalinya ke sana, pas kosong melompong tidak ada orang. Yowes. Aku bayangkan (dan memang kubaca juga di internet) adzan di Jepang caranya mirip dengan Hong Kong. Tidak pakai pengeras suara. Muadzin juga tidak terlalu mengeraskan suaranya, cukup teedengar di dalam ruangan saja. Ya namanya juga minoritas, sebisa mungkin bertahan hidup dengan cara tidak mengganggu ketentraman mayoritas. Dikasih ijin untuk punya musola dan masjid saja sudah bersyukur.
Kalau lagi jalan-jalan. Mall di Ube cuma satu, dan sampai sekarang aku belum pernah kesana. Agak jauh dan harus ganti-ganti bus jadi malas. Biasanya mall tempatku bernafas (maklum anak kota, kalau ga ke mall rasanya pengap dunia) adalah SunPark Mall di kota Sanyoonoda. Sebelah kota Ube, tetangga. Mau kesana harus naik kereta dengan 2 kali ganti jalur. Keretanya tidak jalan setiap jam. Jarang-jarang. Aku pernah kesana sekitar jam 11 dan harus kembali ke stasiun jam 4 sore karena itu adalah kereta ke Ube selanjutnya jam 9 malam, padahal bus di Ube sudah berhenti jam segitu.
Sebelum berangkat ke Jepang, alm. bapak bilang, kalau bisa solat tiap waktu (tidak dijamak). Tapi kalau sulit, dijamak tidak apa-apa. Jadi, aku biasa menjamak solat. Dari apato sudah solat jamak, atau ya solat di luar. Di mall sudah pasti tidak ada musola, jadi aku solat di tempat kosong yang sepi. Pernah aku berdua sama teman, solat dzuhur di dalam toilet. Ya jelas kami pilih toilet khusus untuk orang difable dan bayi. Jadi luas toiletnya, ada space sedikit untuk solat. Wudhu sekalian disitu.
Di kesempatan lain, ak solat di baby room. Jadi di mall itu ada ruangan khusus ibu dan anak. Isinya toilet, tempat ganti popok, tempat bermain, dan ruang menyusui. Cute deh tempatnya. Dan luas. Yang istimewa, tempat menyusui dibentuk seperti ruang ganti baju di mall Indonesia. Itu loh kalau kita lagi belanja baju dan mau coba bajunya. Nah seperti itu. Tertutup tirai juga. Jadi nyaman banget aku solat disitu dengan tertutup.
Pernah juga solat di balkon mall, dekat eskalator. Jadi banyak orang lewat. Mau gimana, udah itu saja tempat tersepi yang ditemukan. Pernah juga nemenin teman solat di tempat parkir, di belakang mobil. Alasnya bisa apapun, kadang juga tidak pakai alas.
Tapi kalau hari biasa, apalagi kalau cuma di kampus. Ya solat setiap waktu. Baru sekarang menyadari kalau itu adalah nikmat yang harus disyukuri.
Wudhu tidak bisa sembarangan. Wudhu lengkap itu ya kalau di kamar hotel sendiri, atau di rumah sendiri. Atau di musola. Tapi kalau di kampus, mall, dan tempat umum lain ya tidak bisa lengkap. Toilet di Jepang itu semua kering (walaupun ada bidet, tetap kering). Tidak bisa asal angkat kaki ke wastafel, pasti kita akan terkena teguran. Kalaupun bukan teguran legal, ya hukuman sosial. Misal dipandangi dengan tatapan benci. Orang Jepang kurang bisa ngomel kan. Hahahaha. Dari yang kubaca, ada hukum khuf. Yaitu berwudhu dengan hanya mengusap alas kaki (untuk kaki, untuk atasnya ya dikerjakan semua). Itu sangat memudahkan muslim yang berada di negeri seperti Jepang.
Penduduk Ube ramah-ramah. Aku tidak merasa diperlakukan seperti alien atau orang aneh. Bahkan banyak juga yang sengaja menolong (tanpa diminta) karena tahu aku bukan penduduk lokal. Kalau dalam kampus sih sudah jadi zona aman ya. Rata-rata sensei (dosen) tahu tentang Islam. Jadi kami ya biasa aja kalau mau solat di lab. Senseiku sendiri sangat pengertian dan kalau makaj dengan beliau, beliau selalu memilihkan menu yang bisa kumakan. Selalu ikan. Apalagi? Haha. Mungkin dosenku juga bahagia kalau mau traktir aku, karena tidak ribet dan murah. Cuma bisa makan sedikit. Pasti tidak minum sake. Sake kan mahal. Hahahaha.
Begitulah yang kurasakan di Ube. Alhamdulillah tidak terlalu sulit. Ya memang tidak senyaman Malaysia dan Indonesia, tapi ini bukan hal yang tidak mungkin untuk dikerjakan. Jadi aku tidak punya cukup alasan untuk maksa makan non-halal, atau lewat solat. Ini di Ube ya. Di kota lain, beda tantangannya. Aku pernah juga ikut dinner bareng sensei, dan jadi terjebak dalam pesta minum orang Jepang. Akan kuceritakan dalam kesempatan lain ya.