Bagaimana rasanya jadi muslim di Jepang?
Rasanya sudah cukup banyak tulisan yang menggambarkan kehidupan muslim di negara-negara non-muslim. Bisa dilihat bahwa Islam berkembang cukup pesat di banyak negara tersebut. Hal yang sama terjadi di Jepang. Makin besarnya komunitas muslim di sana, makin jauh juga penyebaran Islam di negeri matahari terbit ini. Hingga sekarang sudah ada sekitar lima masjid di Jepang, yang otomatis diikuti dengan keberadaan umat muslim di sekitarnya. Lalu industri makanan halal di Jepang yang tumbuh dengan cepatnya, sehingga sekarang kita bisa menemui cukup banyak restoran asli Jepang yang berani menjamin kehalalan menu masakannya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah munculnya beberapa tempat umum yang menyediakan musola (tempat solat) lengkap dengan fasilitas mukena dan al-quran.
TAPI
Itu semua terjadi di kota besar. Tokyo, Osaka, Fukuoka, Nagoya, dan lain-lain. Bagaimana denganku yang tinggal di Ube? Nah, itu yang akan kubahas kali ini. Sekedar pengalamanku selama tiga bulan tinggal di kota Ube. Hanya 3 bulan, jadi tidak cukup mendalam dan sangat mungkin akan kurangnya akurasi.
Qadarullah, Allah menempatkanku di Ube. Sebuah kota kecil nan sepi, terletak di ujung selatan Jepang. Ube adalah kota yang sama sekali tidak terkenal. Kalau browse tentang kota Ube, hanya sedikit yang bisa ditemukan. Tempat wisata di Ube? Malah mungkin tidak ada. Kalau kita mungkin akan menyebutnya: kampung.
Untuk mencapai kota ini juga cukup ribet. Ya namanya juga kampung. Aku naik pesawat jurusan Kuala Lumpur-Fukuoka. Dari Fukuoka lanjut shinkansen (1 jam) ke kota Yamaguchi. Dari kota Yamaguchi harus naik kereta (bukan, bukan kereta cepat. Ini kereta kuno yang interiornya pun lebih tua dari KRL bogor-Jakarta) selama 1 jam. Akhirnya sampai di Ube. Alternatif lain, dari Fukuoka bisa naik bus (3 jam) langsung ke Ube.
Di Ube tidak ada KRL. Tidak ada MRT. Tidak ada LRT. Uber? Grab? Gojek? Makanan apa tuh? *kriuk* Yang ada hanya bus dan taksi. Bus paling malam pukul 9. Itu juga setelah pukul 6 sudah sangat berkurang frekuensi lewatnya. Semua orang di sini (hampir semua) naik mobil. Kalau tidak punya mobil ya sepeda.
Muslim di Ube. Muslim? Apa itu muslim? Selama aku tinggal di sana 3 bulan, itulah kesan yang kurasakan. Orang Ube tidak tahu apa itu islam, apalagi muslim. Apalagi jilbab. Yang mereka tahu, ya itu ada orang wajahnya asing dan kepala ditutup kain, adalah foreigner (bukan penduduk lokal). Tidak pernah ketemu orang Jepang muslim di Ube. Aku juga udah tanya teman, dan sepertinya memang tidak ada.
Jadi kalau ada yang tanya, mampir ke masjid ga? Di Jepang sudah ada masjid kan? Iya, ada masjid di Jepang. Tapi itu di Fukuoka, 3 jam naik bus dari Ube.
Alhamdulillah di Ube ada Yamaguchi University. Universitas tempatku belajar. Universitas ini banyak menerima mahasiswa non-Jepang, terutama Malaysia. Mereka sangat paham akan keberadaan mahasiswa muslim dari Asia Tenggara. Jadi kami diijinkan untuk memiliki musola kecil di kampus. Alhamdulillah. Musola ini didirikan oleh mahasiswa Indonesia (PPI Yamaguchi) dan Malaysia beberapa tahun lalu. Sewaktu aku di sana, ada jamaah untuk solat 5 waktu lho. Jamaah solat jumat pun ada. Jadi hampir tidak ada alasan untuk meninggalkan solat kan.
Lalu ada makanan halal. Beneran halal! Kantin kampus menyediakan masakan halal setiap jam makan siang, dan biasanya habis dalam waktu kurang dari dua jam. Jumlahnya memang terbatas, tapi tetap bersyukur karena sesekali bisa makan ayam halal tanpa harus masak sendiri.

Di luar kampus, tentu saja tidak ada jaminan makanan halal. Ya mau gimana, Islam saja mereka tidak kenal. Tapi aku kadang makan juga di restoran. Mengecek kehalalan tidak selamanya harus dari sertifikat dan label, karena di Jepang juga belum tersedia (ada tapi masih sangat sedikit). Jadi aku mengandalkan teman-teman yang pandai berbahasa Jepang. Mereka biasanya sudah mengecek secara langsung ke penjual mengenai komposisi makanan. Jadi tahu mana yang boleh dan tidak boleh dimakan.

Kalau di supermarket, ada beberapa cara untuk mengecek halal. Pertama, aku buka fanpage Halal Japan di Facebook. Aku suka sekali fanpage ini, karena mereka adalah sekumpulan muslim di Jepang (ada yang penduduk lokal) yang secara langsung terjun ke lapangan untuk menyelidiki komposisi produk makanan di Jepang. Satu per satu. Mereka sampai datang ke pabrik juga. Melihat pembuatan dan bahan yang dipakai. Setelahnya mereka akan posting hasil penyelidikan. Merk apa yang halal, mana yang haram. Yang sangat memudahkan, mereka tidak membuat list tapi upload foto produknya. Jadi mudah kan kita untuk mencari di supermarket.
Kedua, aku pakai google translate. Google translate ini memang canggih macam dewa. Ada fitur foto, jadi kita tinggal foto huruf Jepang. Lalu goole akan menerjemahkan gambar itu. Keren kan, tidak perlu susah-susah menghafal huruf kanji. Hahaha… Tapi tetap ada beberapa kata kunci yang harus dihafal. Kata-kata ini tertulis dalam huruf Jepang (kanji/katakana/hiragana), yang merupakan nama dari zat-zat non-halal. Misalnya: 乳化剤 (nyuuzakai). Kalau kita cek di google translate, terjemah yang muncul adalah emulsifier. Padahal, emulsifier ini ada dua jenis. Emulsifier tanaman atau hewan. Tanaman insyaallah halal, kita boleh kan konsumsi tanaman. Tapi kalau hewan, ya besar kemungkinan haram. Sekalipun itu emulsifier sapi atau ayam, tetap saja kita tidak bisa menjamin proses penyembelihannya kan. Karenanya kita harus menghafalkan huruf nyuuzakai ini, agar bisa membedakan mana yang tanaman dan hewan.
Ketiga…besok akan kusambung lagi. Sekarang ngantuk. Mata Ashita!
yah ceritanya kok selesai, pdhl pgn baca lagi. ke jepang lagi yuk dek
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Boleh tau info sholat jumat kalau di ube dimana nya? Dan jam brp? Terimakasih
waalaykumussalam. teman2 kampus biasa solat jumat di hall asrama Yamaguchi University (yamaguchi daigakku) tokiwa campus. Jam nya tergantung jam solat sih ya