Indonesia di masa sekarang sepertinya lebih “ramai” ya. Ramai dalam arti lebih banyak yang berpendapat (karena sudah reformasi), lebih bebas untuk beraktifitas, yang otomatis jadi kreatifitas rakyat lebih terlihat juga. Lebih istimewa lagi karena makin banyak anak muda yang muncul ke panggung. Panggung apa aja. Mulai dari bisnis, dakwah hingga politik.
Pemuda, yang menurut UU adalah WNI berusia 16-30, menyumbang porsi signifikan dalam total populasi penduduk. BPS melaporkan di tahun 2017, terdapat 63.36 juta pemuda Indonesia, seperempat dari populasi! Dari puluhan juta pemuda, kita melihat Zaki Ahmad dan Nadiem Makarim dengan startup unicorn mereka. Lalu ada Lindswell Kwok yang meraih medali emas wushu di Asian Games 2018, Gamal Albinsaid dengan asuransi bank sampah, dan banyak lagi. Prestasi itu tidak hanya melalui perlombaan, tapi juga kegigihan belajar (kita lihat makin banyak pemuda yang bisa bersekolah hingga ke luar negeri), aktif dalam bidang social dan juga politik.
Keren banget.
Karena kemajuan teknologi informasi pula semakin mudah untuk menyuarakan pendapat dan kita bisa lihat dimana-mana pemuda ramai berdiskusi. Dari sekedar komentar Facebook sampai membuat video opini di Youtube. Dulu yang begini kan dominasi orang tua ya, tapi sekarang sudah mulai bergeser.
Apa sih pentingnya keaktifan pemuda dalam semua lini masyarakat? Bagusnya, pemuda itu masih idealis. Belum banyak menghadapi kompromi dalam hidup, jadi bagus untuk “mengingatkan” senior yang mungkin sudah mulai lupa akan prinsip dan integritas dalam hidup.
Pemuda, sesuai namanya, masih berusia muda. Umur panjang, fisik tentunya masih kuat. Karena masih muda, lebih mudah menyerap hal baru. Juga lebih mudah menerima perubahan. Belum terperangkap oleh kebiasaan puluhan tahun. Efeknya, ide-ide segar lebih mengalir. Sangat mungkin untuk memulai perubahan dan menggerakkan massa.
Tapi, layaknya manusia normal, generasi ini juga punya kelemahan. Kalau bukan semua, paling tidak itulah yang sering aku lihat di masa sekarang. Banyak pemuda bersuara lantang, saking lantangnya sampai lupa adab. Mudah sekali melibas lawan bicara, tanpa melihat latar belakangnya.
Tong kosong nyaring bunyinya. Sedih karena ini juga banyak aku temukan pada pemuda. Suara keras tanpa isi. Pendapat pribadi, tapi bukan dari hasil belajar. Lebih mengacu kepada logika dan perasaan, atau bahkan mungkin ditambah dengan nafsu dan kesenangan pribadi.
Parahnya lagi, ketika diingatkan malah menolak. Nah ini penyakit anak muda (termasuk aku): ngeyel dan susah diingatkan. Merasa benar sendiri, merasa sudah berpegang teguh pada kebenaran sehingga yang lain itu salah.
Mungkin pas jaman dulu juga begitu ya, tapi kan aku ga tau. Dan itu bukan jamanku. Jamanku adalah sekarang, dan aku juga pemuda. Aku nulis ini bukan karena aku udah sempurna, tapi aku juga memiliki kelemahan ini. Malah udah cukup parah kali ya… Now I know it’s bad, really bad. Hence, this write up. 🙂
Teman, kita ini masih muda lho. Begitu banyak hal yang belum kita pelajari, belum kita lihat. Sangat mungkin kita berbuat kesalahan. Sangat mungkin pendapat kita perlu diperbaiki.
Beropini boleh, tapi sebisa mungkin pahami isi ucapanmu sendiri. Pahami topik yang kamu bahas. Banyak baca, banyak bertanya. Bangun opinimu dari ilmu. Masih muda justru saatnya belajar, jadi suarakan terus pendapatmu. Berikan aspirasimu. Tapi ingat, jadilah rendah hati. Dengarkan orang yang berusaha mengingatkanmu. Sekalipun kamu pikir mereka salah, tetaplah dengarkan. Kita tidak pernah tau kapan kita akan salah, dan kapan mereka akan menjadi benar, kalau kita tidak pernah mendengarkan orang lain. Kita harus terus menerus belajar, bahkan dari orang yang tidak kita sukai sekalipun. Teruslah belajar, agar opinimu makin berisi dan memberi manfaat pada orang banyak.
Pentingnya rendah hati.
Adab itu luar biasa pentingnya. Tutur kata yang baik, cara merespon lawan bicara, cara menghargai orang. Mendengarkan orang, rendah hati saat diingatkan, itu juga adab! Kalau kita sombong, justru sulit menerima ilmu. Kalau kita ga sopan, akan sulit untuk berinteraksi di masyarakat. Hidup kan ga cuma Instagram dan Twitter aja.
Jadilah seperti Imam Syafi’I yang justru meminta muridnya untuk meninggalkannya jika beliau menyelisihi hadits. Bukti bahwa Imam sebesar beliau pun tidak sok tau dan siap mengakui kesalahan. Jadilah seperti Rasulullah yang selalu merespon orang lain dengan baik dan lembut.
Yang terpenting, lakukan semua itu karena Tuhanmu. Bukan karena orang tua, bukan karena mengharap dapat pujian, bukan karena mengharap dapat perlakuan yang sama dari orang lain.
https://rumaysho.com/2472-kata-imam-syafii-tinggalkan-pendapatku-jika-menyelisihi-hadits.html
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/10/pemuda-indonesia-menatap-dunia
http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/12/04/5-fakta-lindswell-kwok-peraih-emas-wushu-asian-games-2018-pindah-agama-hingga-berhijab