Mikirin Urusan Orang
“ Si X abis hijrah, isi medsos ttg riba mulu. Sok banget kaya ga pernah nyicil di bank aja.”
“Si A kalo ngepost ttg dakwah. Sok iye kaya ga punya dosa.”
“Udah liat posting terbaru Y? Yang video liburan di Hong Kong itu. Gaya bgt si.”
“Iya kemarin aku ketemu Y dan dia langsung pamer cerita2 liburannya.”
“Ini lho si K ngabis2in duit buat naik airlines bagus. Kalau aku ya uangnya kupake untuk disumbangkan ke korban bencana. Ga suka aku buang2 uang kaya gitu.”
“Ih gila si M beli hp seharga 20 juta. Terlalu berlebihan.”
Padahal, X dan A merasa sangat berdosa dan lewat isi medsos, mereka berharap tidak ada teman2nya yang mengalami hal itu.
Padahal, Y hanya sedang berbahagia setelah sekian tahun menabung untuk bisa keluar negri. Dia hanya ingin ada orang utk berbagi kebahagiaan.
Padahal, zakat dan sedekah K tidak pernah putus. Uangnya masih cukup untuk beli tiket pesawat non-budget airlines. Memang uangnya cukup aja.
Padahal, M memang perlu hp canggih yang bisa mendukung mata pencahariannya.
Teman, kadang kita memang sulit membedakan antara iri dengan menasihati. Kita pikir, orang lain itu salah hanya karena mereka tidak melakukan apa yang kita lakukan. Hanya karena kita selalu melihat sesuatu dari sepatu kita, yang sebetulnya lumrah untuk mereka malah jadi kerikil untuk kita.
Capek lho kalau mikir negatif terus. Mereka mah enak aja menikmati hidup, kita yang sakit di hati kebanyakan mikirin urusan orang.