Pada tahun 2017, dengan ijin Allah aku memilih untuk bekerja sebagai karyawan di satu perusahaan multinasional yang terletak di Penang. Pilihanku ini muncul setelah aku melakukan berbagai pertimbangan dan diskusi dengan banyak pihak. Saat itu, aku punya beberapa alasan tersendiri untuk menjalani ini, walaupun sedikit melenceng dari cita-cita.
Nah sekarang sudah hampir setahun aku bekerja. Walaupun baru setahun, ternyata banyak banget pelajaran yang aku dapatkan. Ga cuma keterampilan dalam pekerjaan, tapi juga bermasyarakat dan mengelola rumah tangga. Sepaket gitu. Beda sekali dengan masa perkuliahan. Ya, banyak belajar tentang kemandirian dan prinsip hidup. Tapi belum lengkap karena tidak banyak bergaul dengan masyarakat dan aku juga masih sepenuhnya bergantung pada orang tua.
Jadi aku mau tulis pengalamanku. Nantinya di masa depan, aku bisa baca catatan-catatan ini dan melihat tahapan perkembangan diriku (dah macem bayi aja hahaha). Semoga bisa jadi manfaat untuk orang lain yang membaca.
Bekerja
Bekerja itu sesuatu banget ya. Sebelum ini, seumur hidup aku habiskan untuk belajar. Sekolah. Kuliah. Tahu sendiri kan, kalau dalam dunia akademik itu kita adalah raja untuk diri sendiri. Dalam arti berbeda dengan pengusaha ya. Tapi sama-sama punya kebebasan yang kita pilih.
Tapi kalau sudah jadi karyawan, ya selamat tinggal kebebasan. Minimal 5 hari seminggu, kita terikat dalam aturan-aturan jam kerja, jam istirahat, pakaian, dan lain-lain. Habis pergi jauh di hari Minggu, lalu kecapekan dan malas kerja di hari senin. Mau bolos ya mana bisa? Atau misalkan kita ada urusan di kantor pajak sampai seharian penuh. Terpaksa harus ambil jatah cuti tahunan.
Ngomongin cuti tahunan juga satu hal tersendiri. Dalam setahun kita hanya diberi beberapa hari untuk libur. Itu juga harus diskusi dengan teman-teman satu tim agar pekerjaan tidak terbengkalai.
Intinya: TIDAK BEBAS.
Lalu soal kerjaan kita. Begitu masuk kerja, bos akan memberi sejumlah target yang harus kita capai dalam jangka waktu tertentu. Pencapaian kita itu akan menjadi salah satu hal yang dinilai. Kalau nilai kita bagus, ya boleh lanjut. Kalau ga bagus, ya ditegur. Wkwkwk. Resiko terburuk ya dipecat. Dipecat itu kan mimpi yang luar biasa buruk ya, karena terkait langsung dengan keberlangsungan hidup. Beda banget sama kuliah, yang kalaupun tidak lulus ya kita dapat malu (dan omelan orang tua) aja. Uang saku masih tetap. Haha.
Intinya: Harus berusaha keras biar ga dipecat.
Intinya lagi: Kita mengerjakan target dan tujuan yang ditetapkan oleh orang lain, untuk kepentingan orang lain (perusahaan).
Masih soal kerjaan. Ngerjain hal yang sama setiap hari, bosen ga sih? BOSAN. Seharian di depan laptop, bosen ga sih? BOSAN. (note: kita boleh ke dapur atau ngobrol sama teman kantor. Atau ya keluar sebentar untuk jajan dan menghirup udara segar. Sebentar aja.
Intinya: B.O.S.A.N.
Masih banyak lagi hal tidak enak dari bekerja. Kalau mau ditulis secara mendetail bisa jadi lebih dari 3 lembar kertas A4 habis. Parahnya, keluhan itu berulang hampir setiap hari di kepala dan ucapan. Belum lagi ditambah ras kesepian dan adanya keharusan untuk adaptasi di tempat baru. Jauh dari keluarga pula. Paket komplit deh pokoknya.
Hidup kog ga enak banget?
Nah. Pertanyaan itu yang akhirnya muncul di kepalaku. Kenapa hidupku jadi seperti ini, padahal ini kan konsekuensi dari keputusan yang kubuat sendiri. Mungkin ini aku yang memang manja. Mungkin ini aku yang ga bersyukur.
[bersambung]