Ada sisi introvert dan rendah diri dalam diri saya. Kadang, saya merasa sungguh tidak nyaman dan tidak ada bahan untuk berlama2 mengobrol dengan seseorang, sehingga mencari-cari cara untuk segera memutus pembicaraan. Kadang, saya merasa sesak dan tidak nyaman dengan kerumunan. Sering, saya merasa terganggu dengan orang yang mengajak saya bicara (padahal saya tidak sibuk). Sering, saya menolak ajakan untuk keluar karena ingin sendiri.
Karena itu saya juga sering merasa bahwa saya tidak memiliki teman. Sering, saya menahan diri untuk meminta tolong karena takut tidak ada yang mau menolong.
Ketika ayah saya meninggal, saya pikir saya akan melewatinya sendiri dalam diam. Saya yang bertahun-tahun tinggal jauh di luar negeri. Saya yang jarang hadir dalam ajakan meet up, reuni atau resepsi pernikahan teman karena saya tidak berada di Semarang. Saya yang bahkan di luar negeri pun merasa bahwa saya tidak punya teman…
Sampai sekarang saya masih ingat hanya beberapa orang yang saya beritahu soal kematian Bapak. Tapi entah kenapa berita itu menyebar begitu jauh. Tiba-tiba semua orang tahu, dan puluhan bahkan ungkin ratusan pesan masuk ke ponsel. Bahkan dari orang yang saya pun lupa atau bahkan tidak kenal. Walaupun saya belum menjawab satu persatu, tiba-tiba satu persatu teman-teman datang. Duduk bersama saya dalam waktu lama, membujuk saya untuk makan. Mengajak saya tertawa. Ada yang datang sambil menangis, memberi saya pelukan erat.
Dan dalam perjalan menuju pemakaman, saya terhenyak ketika melihat salah satu karangan bunga yang datang. Speechless.

Saat hari berlalu, seorang teman menelepon saya di tengah malam. Hanya menanyakan kabar, dan langsung “memberi instruksi” mengenai apa yang perlu dilakukan setelah ini (abis ini banyak dokumen yang perlu diurus, misalkan rekening bank. lo bantu nyokap untuk urus itu semua. Bla bla bla). Di malam lain, teman lain menelepon dan memberi segala nasehat agar saya tahu apa yang bisa saya lakukan setelah ini.
Ketika saya kembali di Kuala Lumpur, satu demi satu cerita terkuak. Ada yang melakukan penggalangan dana (tiba-tiba mereka memberi amplop berisi uang duka), ada yang mengkoordinir solat ghaib berjamaah, ada yang membuat pengumuman ke seluruh lab, dan walaupun tidak ada yang cerita, pasti masih banyak lagi yang mereka perbuat untuk menolong saya.
Terutama untuk para sahabat yang sungguh memahami sampai pada titik bahwa tidak ada dari mereka yang menyuruh saya sabar atau berucap belasungkawa. You guys know me too well.
Ah intinya kali ini saya merasa sungguh bersyukur. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah.
Ada yang bilang kalau kita mau tau siapa teman kita yang sesungguhnya, bisa kita lihat saat kita sedang mengalami kesulitan. Katanya, hanya teman sejati yang akan berada di sisi kita dalam susah.
Orang-orang yang selalu bersama saya, ternyata tidak pergi saat saya mengalami situasi terburuk. Thank you guys. I can never repay what you have done for me, but surely Allah can. So I hope Allah will always shower you with His kindness. I sincerely pray for that.