Catatan: Dalam tulisan ini, istilah ‘rumah’ dipakai untuk menyebut segala jenis landed houses dan apartments.
Aku belum punya pengalaman ngekos atau ngontrak di Indonesia, tapi cukup banyak kisahku di Malaysia karena lama merantau ke sana. Kali ini aku merantau ke Jepang, sehingga merasakan langsung dinamika pencarian rumah atau tempat tinggal di sini. Ceritaku ini akan sangat cocok dengan orang-orang yang akan datang ke Jepang bersama keluarga, tapi belum punya banyak teman/institusi yang bisa membantu proses dapat rumah.
Dulu semasa tinggal di Malaysia, urusan sewa rumah paling formal yang pernah aku lakukan adalah saat menyewa apartemen. Prosesnya dilakukan lewat agen dan ada kontrak tertulis dengan materai resmi. Di Jepang pun mayoritas pakai jasa agen, jadi aku tidak terlalu kaget. Tapi dunia sewa rumah di Jepang jauh lebih besar dan rumit dibanding Malaysia.
Sebelum datang ke Jepang, satu-satunya orang yang kukenal dekat adalah Om yang tinggal jauh dari calon tempat tinggal. Jadi aku harus mandiri dalam cari informasi. Padahal, aku berencana untuk tinggal di Jepang dengan suami. Jadi harus cari tempat tinggal yang muat berdua, atau bertiga jika kami dianugerahi anak. Setelah banyak mengobrol dengan kampus dan kenalan-kenalan sesama Ritsumeikan, ini adalah opsi yang ada untuk mahasiswa baru:
- Tinggal di asrama kampus secara permanen atau jangka panjang. Pilihan ini sangat realistis dan mudah, karena semua diurus kampus. Bahkan dari awal, kampus sudah menghubungi untuk memberi penawaran. Biaya awal pun cukup terjangkau. Sayangnya, Ritsumeikan tidak menyediakan asrama untuk mahasiswa berkeluarga. Mereka hanya punya kamar yang bisa diisi satu orang, persis konsep asrama yang kita kenal di Indonesia.
- Tinggal di asrama untuk sementara sambil mencari tempat tinggal di luar kampus.
- Langsung tinggal di luar kampus dari awal. Ini adalah pilihan yang sangat menantang, apalagi jika belum punya koneksi dan kenalan atau teman dekat yang bisa membantu. xD
Dengan berbagai pertimbangan dan masukan dari orang-orang, aku memutuskan untuk mengambil opsi ketiga. Padahal waktu itu hampir tidak ada kenalan yang bisa bantu, bahkan untuk sekadar berbagi informasi housing agents. Wow, sungguh berani dan suka tantangan. WKWKWKWK.
Ternyata warga asing yang ingin sewa rumah di Jepang harus punya warga lokal Jepang sebagai penjamin. Kita juga harus punya zairyu (residence card, semacam KTP/KITAS versi Jepang). Satu lagi, wajib memiliki satu atau dua orang kontak darurat yang bisa berbahasa Jepang. Masih ada syarat lainnya, tapi menurutku yang tersulit ya tiga hal ini. Kalau di kasusku, aku tidak punya penjamin dan zairyu. Zairyu baru bisa kudapat jika sudah sampai di Jepang.
Nah, kemudian alhamdulillah aku dapat informasi dari kampus bahwa mereka ada kerjasama dengan NASIC dan GTN. Kedua perusahaan ini adalah agen rumah yang bisa bantu mahasiswa asing untuk mendapat tempat tinggal sebelum sampai di Jepang. Sayangnya, NASIC menolakku karena hanya punya apato untuk satu orang (single apato/studio apartment). Jadi aku menghubungi GTN, dan gayung pun bersambut.
Setelah berselancar di website GTN dan berkomunikasi dengan staf mereka, aku baru tahu kalau GTN menawarkan banyak jasa untuk warga asing: agen rumah, penjamin, penyedia seluler (cellphone provider), sampai WIFI rumahan. Ya, kita bisa membayar mereka untuk jadi penjamin saat menyewa rumah. Sekali menyelam, dua tiga pulau terlampaui. Alhamdulillah!
Alurnya begini:
Kontak GTN lewat email → GTN membantu cari rumah → Kita memilih rumah → Kita membayar → Sampai di Jepang tanda tangan kontrak dan ambil kunci rumah → masuk rumah
Karena aku belum kenal siapa-siapa dan datang sendiri, jadi aku pakai jasa GTN untuk:
- Cari rumah sampai dapat yang sesuai kebutuhan. Alhamdulillah dapat furnished studio yang ramah orang asing, bisa bahasa Inggris.
- Beli simcard. Merknya GTN juga, dan cuma kupakai sekitar tiga bulan. Hehehe.
- Beli futon, bantal, dan selimut. Begitu aku sampai rumah, sudah ada tiga hal ini.
- Buka kontrak listrik dan gas. Dua hal ini tidak disediakan pihak apartment, harus urus sendiri.
Aku cukup puas dengan pelayanan GTN. Ada satu kekurangan sih, yaitu staf yang membantuku agak tidak sopan. Bisa jadi karena kurang training atau apa? Tapi walau kurang sopan, dia banyak menolong. Bahkan aku bisa dapat diskon banyak saat membayar biaya awal sewa rumah. Jadi semua termaafkan dan aku sangat berterima kasih.
Kalau ada hal yang bisa kuubah saat mencari rumah kala itu, mungkin aku akan mengecek lokasi universitasku secara detil. Sehingga bisa dapat rumah yang lebih enak lokasinya. :”) Sebelum datang, aku tidak menyangka kalau kota Kusatsu ini penuh dengan tanjakan namun sedikit transportasi umum. Menuju kampus, kita harus melewat tanjakan tinggi. Aku tidak memikirkan hal itu, dan memilih rumah yang jaraknya sekitar lima kilometer dari kampus. Sebetulnya, jarak bukan masalah. Masalahnya ada di tanjakan dan angin kencang yang hampir selalu ada (karena Kusatsu ada di tepi Danau Biwa, terbesar di Jepang). Bayangkan kita harus mengayuh sepeda dengan situasi itu, setiap hari. Capeknya tuh ada banget. :”) Tapi ya sudah, dinikmati saja masa-masa awal hidup di Jepang ini.
21 Februari 2025