Sebahagia apapun aku berada di rumah bersama keluarga, tetap saja urusan keberangkatan ini menohok perasaanku. Proses penerimaan sudah dipenuhi drama (dan tentunya melibatkan penantian yang cukup lama). Yang normalnya berangkat bulan September, mundur jadi, Oktober, lalu mundur lagi sampai Desember. Ketika semua sudah siap, keberangkatan harus batal di empat hari sebelum penerbangan.
Padahal semua urusan relokasi sudah beres, tapi tetap tidak jadi berangkat. Kalau tidak jadi berangkat, aku harus gimana? Gimana aku dan suami mengatasi dampak yang cukup besar dari pembatalan ini? Kaget, sedih, marah, kecewa, bingung, semua jadi satu. Biasanya perasaan positif mendominasi, tapi kini hatiku dipenuhi oleh segala perasaan tidak enak.
Perdana Menteri (PM) Kishida bilang, penutupan ini akan berlangsung paling tidak sampai akhir Desember, untuk kemudian dievaluasi kembali. Berbagai informasi yang kudapat menyatakan bahwa secara umum perkantoran Jepang sudah mulai “libur” (atau operating in minimum capacity) di pertengahan Desember. Lewat email, Ritsumeikan University (RU) pun bilang kalau mereka memperkirakan perkembangan apapun paling cepat datang di awal Januari 2022. Ini karena mereka punya libur akhir tahun yang cukup panjang. Pergantian tahun merupakan momen penting di Jepang. Ya sudah, menurut Allah yang terbaik adalah kondisiku masih harus berlanjut hingga Januari.
Dalam suasana hati yang sungguh tidak karuan, hari itu aku kembali belajar untuk pasrah. Sebagai manusia, aku boleh berusaha. Tapi aku tidak boleh menggantungkan diri pada usahaku. Aku boleh punya keinginan, tapi aku tidak boleh ngotot bahwa keinginanku adalah paling benar. Cuma Allah yang Maha Mengetahui. Cuma Allah yang Maha Memiliki Takdir.
Setelahnya, PPI Jepang mengadakan audiensi dengan KBRI Tokyo, Kedubes Jepang di Jakarta dan perwakilan MEXT. Di forum ini, perwakilan mahasiswa menyampaikan uneg-uneg terkumpul melalui survey yang sudah diadakan sebelumnya. Aku dan teman-teman tentu hadir. Kami jadi tahu kabar teman-teman mahasiswa dengan berbagai sponsor non-pemerintah (privately funded). Sudah sejak tahun 2020 mereka tidak diizinkan masuk Jepang. Bahkan ada yang hampir menyelesaikan studi dan belum juga bisa berangkat. Sedih sekali :(. Kelanjutan dari forum ini adalah penyampaian hasil audiensi pada KBRI. Kabarnya, KBRI akan membuat nota permintaan pada pemerintah Jepang untuk mengatasi masalah ini. Tapi entahlah, sampai aku menulis ini (akhir Februari 2022) tidak ada kabar lagi yang kudengar.
Bulan Desember berlalu dan masuklah aku ke bulan dan tahun yang baru. Peak season sudah berakhir dan pekerjaan harianku di kantor jauh berkurang. Santai sekali. Walaupun online, terasa sekali bahwa kantorku sedang sepi. Di saat yang sama, semester hampir berakhir dan semua mata kuliah memberi ‘sesuatu’ : antara take home exam atau live exam. Sibuk kuliah diimbangi dengan santainya kerja. Alhamdulillah, Maha Besar Allah yang mengatur segalanya.
Dititik ini, kadang aku lupa kalau kuliah ini sepatutnya diadakan luring. Aku bahkan sering tidak ingat kalau akan berangkat ke Jepang.
Sementara itu, di Jepang sana pada bulan Januari PM Kishida mengumumkan
ada 87 mahasiswa asing yang diizinkan masuk Jepang bulan itu. Februari, 400 mahasiswa boleh masuk. Lalu, aku kapan?
Berharap pun aku tidak berani. Aku hanya berani berdoa.