Kamar ini seperti kamar rawat inap pada umumnya. Ada kasur, sofa, tv, dan kamar mandi. Mungkin Cuma satu bedanya: Kasur berwarna hitam yang kutempati ini cukup keras dan tipis. Ini Kasur yang dipakai untuk melahirkan. Memang kurang nyaman, tapi tidak ada yang bisa kuperbuat. Aku harus berbaring di sini sebagai persiapan untuk menghadapi kelahiran, jika memang itu takdirku dan anakku.
Untuk membantu mengurangi kontraksi, sebisa mungkin aku harus diam tanpa gerakan. Setiap jam, perawat akan datang untuk mengecek frekuensi kontraksi dan memeriksa detak jantung bayi. Aku juga diharuskan untuk memanggil perawat untuk urusan buang air.
Aku sendiri berinisiatif untuk menghitung frekuensi kontraksi. Alhamdulillah makin lama berkurang. Tapi darahku masih keluar sedikit-sedikit.
Sementara itu aku terus berkomunikasi dengan suamiku yang sedang bekerja di Kuala Lumpur. Berusaha meyakinkan beliau bahwa aku baik-baik saja. Lagipula kontraksi mulai berkurang, insyaallah ini tidak akan lama. Aku minta suami untuk memberi kabar ke mertua, agar mereka juga mendoakan aku.
Ibuku menghubungi adikku yang menuntut ilmu di Madinah, juga om tante dan sepupu. Mohon doa.
Malam setelah solat isya, aku masih di kamar yang sama. Punggungku mulai terasa sakit karena kasur yang keras. Aku minta perawat untuk pindah ke kamar rawat inap. Alhamdulillah dokter memberi ijin, walau pun jadinya agak ribet karena saat itu (sekitar pukul Sembilan malam) sudah tidak ada bidan di lantai enam (tempat kamar rawat VIP). Jadi kalau ada sesuatu, perawat di lantai enam harus memanggil perawat kamar bersalin (yang semuanya bidan) di lantai dasar. Tentu akan memakan waktu.
Di lantai enam, aku memberi kabar pada suami.
“Alhamdulillah kontraksi berkurang, sekarang cuma 45-60 menit sekali. Sekarang aku mau tidur ya.”
Memasuki tengah malam, lagi-lagi aku memanggil perawat untuk membantuku buang air kecil. Saat itu, kontraksi bertambah. Sudah kulaporkan pada perawat, dan pengawasan masih terus berlanjut setelah aku diberi obat.
Dua jam kemudian, kontraksi semakin sering. Sakit sekali. Ya Allah. Ibuku yang terbangun terus mengelus tanganku. “Yaa Rahmaan… Yaa Rahiim…” beliau menuntunku untuk berdzikir.