Aku kira nikah tu ya nikah aja. Enak, bahagia. Kalau ada ujian, ya dilewati sama-sama. Pokoknya, jalani aja.
Tapi ya sejak awal pernikahan, aku merasakan dua hal ini
- RIBET. Nikah itu RIBET BANGET.
- Ujiannya BERAT. Nggak nyangka aja sih kalau ujian pernikahan bisa seberat itu. Jadi benar juga kalau ada yang bilang bahwa sebuah pernikahan akan diuji dari sisi manapun.
Dua itu aja menimbulkan efek yang sangat besar ke hidup. Oh jangan salah, ini bukan sisi negatif pernikahan. Nggak ada kan, juara dunia badminton yang nggak mau ribet latihan setiap hari? Nggak ada kan, orang masuk surga tanpa dikasih ujian dari Allah? Kalau mau sesuatu, ya harus usaha.
Yes, “ribet” adalah istilahku untuk hal positif yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim. Ribet adalah sebuah ungkapan kemalasanku untuk berbuat lebih. Jadi, pernikahan itu bukan ribet. Tepatnya, pernikahan memerlukan USAHA. Dan usaha itu akan berbuah pahala, kalau memang diniatkan untuk cari ridho Allah.
Pantas saja kalau orang Islam bilang menikah itu melengkapi separuh agama. Ya gimana nggak, lha wong orang menikah itu betul-betul seperti ditempa dalam kawah candradimuka.
Pernikahan yang berhasil, harusnya membuat pelakunya makin dekat dengan Allah.
Pernikahan yang berhasil, harusnya membuat pelakunya makin dewasa dan bijak. Makin berakhlak baik.
Intinya, idealnya pernikahan mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik.
Nggak nyangka juga sih, seorang anti ribet malas sepertiku sudah lebih dari dua tahun berada dalam institusi ini. Bisa juga ternyata. Alhamdulillah.