Dulu aku sudah pernah menulis tentang pengalaman cari kerja di Malaysia. Empat tahun kemudian, jaman sudah banyak berubah. Tahun 2021, aku tidak lagi datang ke job fair dengan kostum formal sambil membawa resume. Cari lowongan, tes, wawancara, semuanya daring.
Selama pandemi ini sudah dua kali aku melakukan proses yang sama. Sebelumnya, aku memikirkan jenis pekerjaan yang ingin dikerjakan. Jelas aku cari remote job (kerja jarak jauh), karena cocok dengan kepribadianku. Ditambah dengan kondisi rumah tanggaku saat ini yang sering berpindah tempat tinggal. Oh ya, aku sudah bekerja secara remote sejak 2018. Jadi sudah terbiasa.
Lalu pekerjaan apa yang bisa dikerjakan remote? Banyak. Aku memilih dua industri: content writer dan AML compliance. Sejak awal (2017), AML compliance adalah industri tempatku berkarir. Alhamdulillah, kerja di bidang ini memungkinkan untuk remote dan banyak perusahaan yang membuka lowongan untuk itu. Dan karena aku suka menulis, aku pilih content writer sebagai industri kedua yang kutelusuri.
Berikut ini prosesku dalam mendapat kerja.
Pertama, berdoa. Doa ini harus dikerjakan, dan dilakukan sejak sebelum pencarian dimulai. Bukan dibalik, cari dulu baru berdoa.
Kedua, dapat ridho suami/pasangan dan orang tua. Kalau mereka ridho, pasti mendoakan juga.
Ketiga, perbarui resume dan LinkedIn profile. Aku mempersiapkan beberapa resume draft karena aku akan melamar pekerjaan di dua industri yang berbeda. Semuanya dalam bentuk draft di Canva, agar lebih mudah mengubahnya saat akan melamar kerja.
Ketiga, cari lowongan di LinkedIn. Di LinkedIn, kita bisa mencari lowongan kerja di seluruh dunia. Cocok banget kalau mau kerja remote. Selain itu, LinkedIn punya fitur Easy Apply dan Apply via LinkedIn. Ini sangat memudahkan kita yang rajin memperbarui profil LinkedIn. Masih banyak lagi fitur LinkedIn yang kusukai lebih dari situs karir lainnya. Makanya aku fokus di sana.
Keempat, pencarian dimulai. Setiap menemukan judul lowongan yang diminati, aku baca dulu keterangannya dengan teliti. Baca deskripsi pekerjaan (job description) dan syarat pekerjaan (job requirements) mereka. Cek juga, ini perusahaan apa? Bank? Cryptocurrency? Aku memilih untuk meneliti sejak awal, biar tidak repot di kemudian hari. Juga agar tidak merepotkan recruiter.
Kelima, mengirim lamaran. Banyak perusahaan yang merekrut langsung lewat LinkedIn, tapi ada juga yang minta pelamar untuk mengajukan di website perusahaan. Itu semua pasti disebutkan. Nah, makanya kita harus jeli dalam membaca informasi lowongan. Salah satu alasannya adalah agar tidak salah kirim lamaran. Tapi, belum pernah aku dapat panggilan tes di lowongan pertama yang kulamar. Jadi, aku nggak berhenti di satu perusahaan. Hampir setiap hari aku mengirim lamaran ke banyak lowongan. Ini untuk menaikkan kesempatan mendapat pekerjaan. Pekerjaanku sekarang? Diterima setelah mencari selama tiga bulan.

Keenam, mendapat panggilan tes. Ini panggilan tes pertama dalam tiga bulan ke belakang, jadi rasanya senang banget! Aku nggak terlalu khawatir dengan tes ini, yang mirip-mirip saja dengan tes di dua pekerjaanku sebelumnya. Malah kali ini lebih percaya diri karena sudah biasa dengan kerja ini.
Ketujuh, lolos ke wawancara. Alhamdulillah. Dulu, aku selalu takut dengan wawancara. Takut nggak bisa menjawab dengan baik. Takut ditanya aneh-aneh. Tapi kali ini rasa takut itu sudah pudar. Aku lebih tenang dan santai. Persiapan mulai sehari sebelumnya, dan jadi agak intens beberapa jam sebelum wawancara.
Walaupun aku tenang saat menghadapi tes dan wawancara, rasa gelisah tetap ada. Karena aku sangat paham bahwa ini adalah persoalan qadar, rezeki. Sebaik apapun penampilanku, kalau Allah nggak mengizinkan ya wassalam. Apalagi, aku merasa salah menjawab beberapa pertanyaan di wawancara. Tapi di saat yang sama aku juga merasa tenang dengan keyakinan tentang qadar dan rezeki. Memang kalau Allah nggak izinkan, wassalam. Tapi kalau Allah izinkan, pasti dapat. Lagipula, jika aku nggak lolos pasti Allah akan membuka pintu rezeki lainnya.
Terakhir, diterima. Yeay!
Jadi dari puluhan, mungkin seratus lebih, lowongan yang kukirim, hanya satu yang mengundang untuk tes. Dan satu itulah yang menerimaku. Alhamdulillah.
Lalu bagaimana dengan menjadi writer? Nggak masalah. Masih bisa dikerjakan di luar jam kerja sebagai analyst. Dari dulu kan juga begitu.