Lucu ya. Sebelum punya anak, aku tidak suka mendengar suara tangisan bayi atau anak kecil. Tapi kali ini, aku justru sangat berharap mendengar tangisan anakku. Setiap dia menangis, saturasi oksigennya membaik.
Aku sering memandangi wajah anakku. Dia lucu dan tampan. Mirip seperti mbah kakungnya. Sejak lahir dia sangat aktif bergerak, dan itu berlanjut hingga sekarang saat di NICU. Tangannya bergerak-gerak sampai menjatuhkan helm oksigen. Kakinya banyak menendang. Dalam hati kecil aku tahu bahwa sebagian dari gerakannya adalah ekspresi ketidaknyamanan.
Dengan kondisi ini, siapa sih yang akan merasa nyaman? Sedih rasanya melihat tubuh Ahda yang ditempeli selang, bekas jarum suntik di tangan dan kakinya, juga selang kecil yang keluar dari mulutnya. Di selang itu aku bisa melihat cairan berwarna gelap yang mengalir keluar. Darah. Perutnya berdarah, aku lupa kenapa. Sepertinya karena kaget menerima selang.
Karena dia terus-terusan muntah darah, dokter tidak bisa memasukkan obat. Khawatir akan makin merusak lambungnya. Cara lain adalah melalui infus, tapi pembuluh darahnya terlalu kecil sehingga perawat selalu gagal memasang jarum. Satu-satunya jalan untuk memasang infus adalah operasi vena seksi. Vena seksi adalah operasi darurat untuk mendapat pembuluh darah. Ahda harus menjalani dua vena seksi sampai akhirnya infus terpasang.
Dalam ketidaknyamanan Ahda, aku bisa melihatnya yang kesulitan tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, dia akan terbangun setelah beberapa detik. Terbangun dengan kaget…atau kesakitan. Aku berkali-kali bertanya pada perawat dan dokter, kenapa dia selalu terbangun? Kenapa dia tidak bisa istirahat?
Selama Ahda dirawat dalam NICU, dalam sehari aku bisa menerima banyak panggilan dari perawat. Obat ini, obat itu, tindakan ini, tindakan itu. Biaya sekian dan sekian. Semua aku setujui, yang penting Ahda sembuh. Dana darimana? Aku belum tahu. Yang aku tahu, rejeki Ahda sudah ditetapkan oleh Allah di lauhul mahfudz. Aku dan suami tidak perlu khawatir, usahakan saja dengan cara yang kami tahu. Sisanya serahkan pada Allah.
Hari Sabtu. Sore itu, aku minta suami untuk pulang. Kalau ada apa-apa, yang penting dia sudah sempat melihat anaknya. Suami mengiyakan permintaanku, meski sebenarnya dia baru beberapa hari bekerja setelah cuti untuk menemaniku saat kelahiran Ahda. Saat pembicaraan itu terjadi pun aku masih berusaha yakin bahwa Allah akan memberi keajaiban. Tapi suamiku berkata
“Kita mendoakan yang terbaik untuk Ahda.”